Memaknai Hari Raya Pagerwesi

Kata "pagerwesi" artinya pagar dari besi. Ini me-lambangkan suatu perlindungan yang kuat. Segala sesuatu yang dipagari berarti sesuatu Baca Lagi ...

Bali

GBali adalah nama salah satu provinsi di Indonesia dan juga merupakan nama pulau terbesar yang menjadi bagian dari provinsi tersebut. Selain terdiri Baca Lagi ...

Arti dan Lambang Pemujaan Hindu

Ajaran Hindu yang disimbulkan dalam upacara keagamaan Hindu dianggap sebagai bahan atau artikel yang suci untuk dipergunakan dalam kegiatan Baca Lagi ...

What do You Think About Hari Raya Saraswati?

Hari Raya Saraswati bagi umat Hindu di Indonesia dirayakan setiap 210 hari sekali menurut kalender Jawa Bali, yakni pada setiap Saniscara Umanis Baca Lagi ...

Bhagawad Gita: Gundahnya Sang Arjuna

Kuru, berkumpullah putra-putraku beserta laskar-laskar mereka, dan juga putra-putra Sang Pandu (Ayahanda Pandawa) bersiap-siap untuk suatu yudha Baca Lagi ...

Beginilah Tampang Manusia 1000 Tahun Mendatang

akarta, Evolusi telah mengubah bentuk manusia masa lalu menjadi bentuk yang sekarang Anda lihat. Namun menurut para ahli, evolusi masih terus Baca Lagi ...

Seluk Beluk Majapahit saat "didekati"?

Jawa Timur - Kota yang dulunya merupakan tempat berdirinya Kerajaan Majapahit ini berjarak kurang lebih 50KM dari Kota Surabaya waktu tempuhnya sekitar 1,5 jam perjalanan kalau naik motor atau bis kota. Saya tertarik mengunjungi Mojokerto, karena selain terbilang dekat dengan Surabaya, kota ini masih menyimpan banyak bukti sejarah pada jaman berdirinya Kerajaan Majapahit, bukti peninggalannya bisa ditemukan di sekitar Desa Trowulan, yang dulunya merupakan pusat pemerintahan Majapahit. Saya langsung menuju ke Museum Majapahit di Desa Trowulan, semua bukti peninggalan sejarah Majapahit saya temukan disini, mulai dari perkakas rumah tangga sampai tulisan aksara jawa yang dipahat diatas batu, so amazing, ternyata kehidupan dan kebudayaan masyarakat Majapahit pada jaman dahulu sudah sangat maju. Setelah dari Museum saya melanjutkan berkeliling di sekitar Trowulan dan menemukan beberapa situs candi yang masih terawat dengan baik, salah satunya Candi Bragu yang konon merupakan candi tertinggi di Mojokerto. Selesai dengan Desa Trowulan saya menuju ke Desa Bejijong, tujuan saya kali ini adalah mengunjungi Mahavihara Majapahit, di vihara ini terdapat Patung Budha Tidur berwarna keemasan yang ukurannya terbilang cukup besar, sekali lagi saya merasa amazing, melihat sendiri bukti kalau Kerajaan Majapahit memang pernah ada, what a wonderful.

Satu hal lagi yang membuat saya betah berlama-lama disini adalah, udaranya sejuk sekali, apalagi kalau pagi hari, kabut baru akan hilang dari pandangan diatas jam 7 pagi. Sebelum saya mengakhiri perjalanan saya di kota ini dan kembali ke Surabaya, saya menyempatkan diri berjalan-jalan di sekitar Desa Kasiyan, kata teman saya di daerah ini mayoritas penduduknya adalah petani, walaupun tidak semua yang menanam padi, sebagian dari mereka adalah petani tebu. Selain bertani mereka juga sebagai pembuat batu bata, jadi tidak heran kalau disekitar areal persawahan banyak dijumpai semacam gubuk dan biasa disebut linggan. Linggan ini merupakan tempat pembuatan batu bata. Bicara soal mata pencaharian penduduk Mojokerto, ada juga yang berprofesi sebagai pengrajin Kuningan, di desa Bejijong salah satunya, saya sendiri sempat mampir dan melihat mereka bekerja, mulai dari proses mengolah bahan baku, mencetak, memanggang sampai tahap pemolesan/ finishing, untuk tahap akhir ini mereka menggun akan watu ijo (red: batu hijau) agar memberikan hasil mengkilap pada kuningan. Lucky me, saya pulang tidak dengan tangan kosong, oleh pemiliknya saya diberi souvenir berupa tempat lilin dan asbak berbentuk angsa dan kura-kura, saya senang sekali.

Akhirnya, perjalanan saya di kota ini berakhir dengan Wonosalam sebagai tujuan akhir saya. Bagi yang suka Durian, disinilah tempat yang tepat untuk berburu durian. Kita bisa menikmati durian masak pohon atau mau coba ikut memanen durian juga boleh.

Itulah sekilas tentang majapahit dalam museum, jika kita dalami dan mengenal kembali Kerajaan Majapahit dalam sejarah berikut selengkapnya:

AGAMA MAJAPAHIT

Majapahit banyak meninggalkan tempat-tempat suci, sisa-sisa sarana ritual keagamaan masa itu. Bangunanbangunan suci im dikenal dengan nama candi, pemandian suci (patirthan) dan gua-gua pertapaan. Selain itu terdapat pula sisa-sisa bangunan lain, misalnya pintu gerbang yang kadangkala disebut candi pula.

Bangunan-bangunan suci masa Majapahit ini kebanyakan bersifat agama Siwa, dan sedikit yang bersifat agama Buddha, antara lain Candi Jago. Candi Bhayalangu, Candi Sanggrahan dan Candi Jabung, Sifat keagamaan itu kita ketahui antara lain dan ciri-ciri arsitektural, arca-arca yang ditinggalkan, relief candi, dan dukungan bukti data tekstual, misalnya Kakawin Nagarakrtagama, Kakawin Arjunawijaya, Kakawin Sutasoma dan sedikit berita prasasti.

Di samping perbedaan latar belakang keagamaan, terdapat pula perbedaan status dan fungsi bangunan suci. Berdasarkan status bangunan-bangunan suci, kita dapat kelompokkan menjadi dua, yaitu bangunan yang dikelola oleh pemerintah pusat dan yang berada di luar kekuasaan pemerintah pusat. Bangunan suci yang dikelola oleh pemerintah pusat ada 2 macam yaitu:

1. Dharma -Dalm (Arj. XXIII:2a), yaitu bangunan suci yang diperuntukkan bagi raja beserta keluarganya. Menurut Nagarakretagama, setiap bangunan suci dikelola oleh seorang sthapaka dan seorang wiku raja (wiku haji) dan secara keseluruhan diawasi oleh seorang dharmadhyaksa di istana. Jumlah Dharma-Haji ini ada 27 buah diantaranya Kegenengan, Kidal, Jajadhu, Pikatan, Weleri, Sukalila, Kumitir (Pigeaud I, 1960:57).

2. Dharma-Ipas adalah bangunan suci yang dibangun di atas tanah wakaf (bhudana) pemberian raja untuk para rsi-saiwa-sogata, untuk memuja dewa-dewa dan untuk mata pencaharian mereka (pakajiwita) (Soepomo I, 1997:123). Dharma-Ipas kasaiwan dikelola oleh seorang dharmadhyaksa ring kasaiwan, Dharma-Ipas kasogatan dikelola oleh seorang dharmadhyaksa ring kasogatan dan Dharma-Ipas karesyan dikelola oleh mantri-her-haji (Pigeaud 1, 1960-58).

Bangunan/tempat suci yang berada di luar pengelolaan pemerintah pusat kebanyakan adalah milik para rsi (pertapa wanaprastha) antara lain mandala, katyagan, janggan. Secara umum bangunan/tempat suci ini disebut patapan atau wanasrama karena letaknya yang terpencil. Mandala yang dikenal sebagai kadewaguruan adalah tempat pendidikan agama yang dipimpin oleh seorang siddharsi yang disebut pula dewaguru (Santiko 1986, 1990).

Berdasarkan fungsinya, candi-candi masa Majapahit dapat dikelompokkan menjadi 2, yaitu:
1. Candi-candi yang mempunyai 2 fungsi (fungsi ganda) yaitu sebagai pendharmaan raja dan keluarganya, serta sekaligus sebagai; Kuil pemujaan dewa. Yang termasuk candi ganda antara lain Candi Jagi, Candi Pari, Candi Rimbi, dan Candi Simping (Sumberjati). Ciri candi kelompok ini adalah adanya tubuh candi dan ruang utama (garbhagrha) untuk menempatkan sebuah area pendharmaan perwujudan (dewawimbha).

2. Candi-candi yang hanya berfungsi sebagai kuil pemujaan, pada umumnya tidak mempunyai garbhagrha dan arca perwujudan, tubuh candi diganti dengan altar dan/atau miniatur candi.Candi-candi kuil ini kebanyakan dipakai oleh para rsi dan terletak dilereng-lereng gunung, misalnya di lereng gunung Pananggungan, Lawu, Wilis dan sebagainya (Santika 1998).

Pejabat Keagamaan dan Agamawan di Majapahit
Berdasarkan sumber tertulis, raja-raja Majapahit pada umumnya beragama Siwa dan aliran Siwasiddhanta, kecuali ratu Tribhuwanotunggadewi (ibunda Hayamwuruk) beragama Buddha Mahayana. Walaupun begitu agama Siwa dan agama Buddha tetap menjadi agama resmi kerajaan hingga sekitar tahun 1447, karena pejabat kedua agama itu terutama pejabat Buddha disebut terakhir kali dalam prasasti Waringin Piti (Hasan Djafar 1986 : 239-258). Saat pemerintahan Raden Wijaya (Kertarajasa), ada 2 pejabat tinggi Siwa dan Buddha, yaitu Dharmadyaksa ring Kasaiwan dan Dharmadyaksa ring Kasogatan, kemudian 5 pejabat Siwa di bawahnya yang secara keseluruhan disebut Dharmapapati atau Dharmadhikarana. Lima pejabat Siwa ini pada pemerintahan Tribhuwana di tambah 2 orang dari agama Buddha, sehingga jumlahnya menjadi 7 orang dan secara berkelompok disebut Sang Saptopapati (Van Naersen 1933:239-258).

Disamping pejabat resmi keagamaan, terdapat pula para agamawan, walaupun tidak resmi mempunyai kedudukan dalam struktur birokrasi pemerintahan Majapahit, tetapi mempunyai peranan penting di lingkungan istana. Dalam sumber tertulis mereka disebut berkelompok, ada yang berkelompok 3 disebut tripaksa yaitu rsi-saiwa-sagata dan kelompok 4 disebut catur dwija yaitu mahabrahmana (wipra) saiwa-sogata-rsi. Kehadiran mereka secara resmi telah disebut dalam prasasti-prasasti Airlangga. Kelompok rsi dalam prasasti Airlangga disebut walkali atau walkaladhara (berpakaian kulit kayu). Rsi di sini bukan rsi tokoh mitos seperti Narada, Vivamitra, Kasyapa dan sebagainya, tetapi para pertapa yang sedang menjalani tahap hidup wanaprastha dan sanyasin atau bhiksuka (Santiko 1986, 1990).

Mahabrahmana yang disebut juga wira, adalah pendeta ahli Weda, agama dan filsafat Hindu; mungkin sebagian didatangkan dan India dan mungkin bertindak sebagai purohita di istana Majapahit. Dalam Nagarakrtagama pupuh XII:I disebutkan seorang pendeta (dwija) Siwa bernama Sri Brahmaraja, dan dalam pupuh LXXXIII:3, mengatakan bahwa 3 orang dwija diketuai oleh Sri Brahmanaja, seorang ahli dalam ajaran agama, filsafat Nyaya, Samikhyatarka Wyakarana dan ajaran Weda, mereka tinggal di istana dan sangat dihormati. Menurut Pigeaud kemungkinan mereka datang dari India (Pigeaud I, 1960:64, IV 1962:269-270). Nama Sri Brahmaraja terdapat pula pada prasasti Nglawang kira-kira dari tahun 1350, dan prasasti Ptak dan Jiu yang dikeluarkan pada tahun 1486. Dan beberapa sumber ini dianggap bahwa Sri Brahmaraja Ganggadhara dalam kedua prasasti terakhir berbeda dengan Sri Brahmaraja yang datang ke istana Majapahit masa Hayam Wuruk.

Agama Siwa Buddha
Pembaharuan / pertemuan agama Siwa dan agama Buddha pertama kali terjadi pada masa pemerintahan raja Krtanagara, raja Singasari terakhir. Apa maksudnya mempertemukan kedua agama tersebut belum jelas, mungkin disamping sifat toleransinya yang sangat besar, juga terdapat alasan lain yang lebih bersifat politik, yaitu untuk memperkuat din dalam menghadapi musuh dan Cina, Kubilai Khan. Untuk mempertemukan kedua agama itu, Krtanagara yang bernama Buddha Mahayana Tantrayana, membuat candi Siwa-Buddha yaitu Candi Jawi di Prigen dan Candi Singasari, dekat kota Malang. Dalam Nagarakrtagama pupuh LV:Id dikatakan.. entun yang dwaya saiwa budha sang amuja nguni satata artinya “itu sebabnya kedua (pemeluk) Siwa dan Buddha dahulu melakukan puja secara teratur”. Puja teratur dilakukan oleh para penganut Siwa maupun Buddha di Candi Jawi tersebut. Candi Siwa-Buddha seperti yang dibuat oleh Krtanagara memang tidak dijumpai pada jaman Majapahit, tetapi, uniknya, candi yang bersifat Buddha masa Majapahit tidak segan-segan menghias dindingnya dengan relief cerita yang bersifat Siwa dan begitu sebaliknya. Misalnya Candi Jago yang bersifat Buddha menghias dinding candinya dengan relief cerita Arjunawiwaha, Parthayajna dan Kalayanawanantaka yang semua cerita Siwa. Sebaliknya Candi Panataran yang bersifat agama memahat cerita Bubuksah Gagangaking yang bersifat Buddha di dinding salah satu bangunan candi tersebut.

Pembauran Agama Siwa-Buddha ini sebenarnya hanyalah sebatas mempersamakan kenyataan tertinggi (the Supreme Being) kedua agama beserta segala emanasinya, disertai pembauran beberapa konsep kedua agama tersebut, namun bukan pembauran seluruh sistem. Kedua agama tersebut masih tetap eksis dengan penganut masing-masing yang menjalankan tata upacara sesuai ajaran dan aturan agama mereka, demikian pula mereka masih tetap memiliki bangunan-bangunan suci sendiri.

Pembauran agama Siwa-Buddha pada jaman Majapahit antara lain terlihat pada cara mendharmakan raja dan keluarganya yang wafat pada 2 candi yang berbeda sifat keagamaannya. Misalnya Kertarajasa, raja pertama Majapahit, di-dharmakan di Candi Sumberjati (Simping) sebagai wujud Siwa (Siwawimbha) dan Antahpura sebagai Buddha. Raja Jayabaya, raja ke dua Mahapahit, di-dharmakan di Shila Ptak sebagai Wisnu dan di Sukhalila sebagai Buddha. Mewujudkan raja yang wafat sebaligus sebagai Siwa dan Buddha membuktikan adanya kepercayaan dimana Kenyataan Tertinggi dalam agama Siwa maupun Budha tidaklah berbeda, seperti yang disebut dalam Kakawin Sutasoma pupuh CXXXIX “hyang budha tan pahi lawan siwa rajadewa “.

Agama Siwasiddhanta
Agama Siwa yang berkembang dan dipeluk oleh raja-raja Majapahit adalah agama Siwadiddhanta (Siddhantatapaksa) yang mulai berkembang di Jawa Timur pada masa raja Sindok (abad X). Sumber ajaran agama Siwasiddhanta adalah kitab Tutur (Smrti), dan yang tertua adalah Tutur Bhwanakosa yang disusun pada jaman Mpu Sindok dan yang termuda dan terpanjang adalah Tutur Jnanasiddanta yang disusun pada jaman Majapahit. Ajaran Agama ini sangat dipengaruhi oleh Saiwa Upanisad, Vedanta dan Samkhya. Kenyataan Tertinggi agama ini disebut Paramasiwa yang disamakan dengan suku kata suci OM. Sebagai dewa tertinggi Siwa mempunyai 3 hakekat (tattwa) yaitu:
• Paramasiwa-tattwa yang bersifat tak terwujud (niskala);
• Sadasiwa-tattwa yang bersifat berwujud-tak terwujud (sanakalaniskala);
• Siwa-tattwa bersifat berwujud (sakala);
Disamping membicarakan tattwa Siwa, Tutur membicarakan pula tentang pencapaian kalepasan, yaitu kesempurnaan yang dicapai waktu masih hidup; kamoksan, yaitu kesempurnaan setelah meninggal; peleburan diri dalam kehampaan (Sunya), yang dalam sumber tertulis disebut dengan istilah mulih atau mantuk, misalnya mantuk ing Siwapada, mantuk ring swargga loka. Salah satu usaha pencapaian kelepasan dan kamoksan adalah dengan cara pemujaan lingga yang dapat melenyapkan dosa (kiesa). Apa yang ditulis dalam Tutur diajarkan oleh para siddharsi (dewaguru) di mandala-mandala (kadewaguruan). Disamping diberi pengertian tentang Paramasiwa yang juga disebut pula sebagai Bhatara Guru atau Hyang Jagatparamana, diajarkan pula pada para murid (sisya, kaki, endang) tata upacara yang harus dilakukan sebelum berkomtemplasi tentang pembebasan jiwa, yoga dan pengetahuan-pengetahuan spiritual yang tinggi.

Di samping agama Siwa, terdapat pula agama Waisnawa yang memuja dewa Wisnu, tetapi tidak sepenting agama Siwa. Dalam agama Siwa, Wisnu hanya dipuja sebagai dewa pelindung (istadewata) bagi para raja serta pahlawan, bukan sebagai dewa tertinggi, karena fungsi Wisnu sebagai dewa pelindung dunia.• WHD. No. 488 Agustus 2007.

Bangunan Air di Situs Majapahit

Berbicara tentang bangunan air di Majapahit, kita mengenal waduk dan kanal, termasuk di dalamnya kolam dan saluran air, yang sampai sekarang masih ditemukan sisa-sisa bangunannya. Berdasarkan penelitian-penelitian yang telah dilakukan, diketahui bahwa pemerintah kerajaan dan masyarakat Majapahit membuat bangunan-bangunan air tersebut sebagai fungsi pengelolaan air. Kanal dan saluran air dibangun untuk kepentingan irigasi pertanian dan sarana mengalirkan air sungai ke waduk; kolam-kolam berfungsi sebagai tempat penampungan dan penyimpanan air serta pengendali banjir.

ImageHasil penelitian membuktikan sekurangnya terdapat 20 waduk kuno yang tersebar di dataran sebelah utara daerah Gunung Anjasmoro, Welirang dan Arjuno, Waduk Bauno, Kumitir, Domas, Temon, Kraton dan Kedung Wulan merupakan waduk-waduk yang berhubungan dengan Kota Majapahit yang letaknya d antara Kali Gunting disebelah barat dan Kali Brangkal di sebelah timur. Lima waduk yang pertama masih dapat ditemukan, namun waduk Kedung Wulan tidak terlihat lagi sisa-sisa bangunarinya, baik pada foto Udara maupun di lapangan.

Waduk Baureno adalah waduk yang terbesar. Bendungannya dikenal dengan sebutañ Candi Lima. Waduk ini terletak 0,5 km dan pertemuan Kali Boro dengan Kali Pikatan membentuk Kali Brangkal. Bekas waduk ini sekarang merupakan cekungan alamiah yang cukup besar ini, pada sisi barat dahulu terdapat Waduk Dornas. Tampaknya palung Kali Brangkal di desa Kedungrupit, sebelum mencapai Waduk Domas, diperdalam untuk memperlancar aliran sungai sehingga ketika musim hujan tiba air yang melimpah dapat dikendalikan dan tidak meluap menggenangi kota Majapahit. Di tempat ini lebar sungai hanya 10 meter dan tebingnya yang curam jelas merupakan buatan manusia.

Waduk Kumitir, yang sekarang dikenal penduduk sebagai Rawa Kumitir, merupakan daerah yang lebih rendah di antara daerah pesawahan yang luas yang terletak di sebelah barat Waduk Kumitir berhasil menemukan susunan bata yang diperkirakan merupakan sisa tanggul waduk tersebut.

Dan Waduk Baureno tampak sebuah saluran air yang mengalir masuk ke sebelah tenggara Waduk Kumitir. Saluran air lainnya mengalirkan air dan bagian utara Waduk Kumitir ke aráh barat laut menuju sebuah cekungan alamiah yang tidak terlalu besar, disebut Waduk Kraton, letaknya di utara Gapura ajangratu. Waduk yang terakhir adalah Waduk Temon yang letaknya di Selatan Waduk Kraton, di barat daya Waduk Kumitir. Di tempat ini sekarang banyak ditemukan mata air. Di samping waduk-waduk, di Trowulan terdapat tiga buah kolam buatan yang terletak berdekatan, yaitu Segaran, Balong Bunder dan Balong Dowo, Kolam Segaran memperoteh air dari saluran yang berasal dari Waduk Kraton. Di utara Segaran ditemukan saluran lainnya yang mengalirkan air keluar dari Segaran. Balong Dowo saat ini merupakan rawa yang ditumbuhi rumput liar, terletak 125 meter di sebelah barat daya Kolam Segaran. Hanya Kolam Segaran yang diperkuat dengan dinding-dinding tebal dan bata-bata besar di keempat sisinya. Sekarang merupakan peninggalan bangunan air yang terlibat paling monumental di kota. Majapahit.

Kolam Segaran untuk pertama kalinya ditemukan oleh Maclaine Pont pada tahun 1926 yang ketika itu sedang menekuni pencarian reruntuhan kota Majapahit. Kolam ini berukuran panjang 375 meter, lebar 175 meter, dan dalamnya sekitar 3 meter, membujur arah timur laut - barat daya. Dinding-dindingnya dibangun dari batu-bata yang direkatkan tanpa bahan perekat dengan cara menggosok pemukaan bata satu sama lain hingga rekat. Ketebalan dinding 1,60 meter. Di sisi tenggara terdapat saluran masuk ke kolam, sedangkan di sisi barat laut terdapat saluran keluar yang menuju ke Balong Dowo dan Balong Bunder. Karena ada saluran keluar dan saluran masuk, maka masuk akal jika kolam Segaran berfungsi sebagai waduk penampungan dari satu sistem irigasi. Para ahli menduga bahwa kolam Segaran tidak lain adalah “telaga” seperti yang disebutkan dalam kitab Nagarakrtagama Pupuh 8 : 5.

Keberadaan waduk-waduk di sekitar kota Majapahit telah diketahui sejak tahun 1924, tetapi baru pada tahun 1970-an, dari foto udara yang dibuat di Situs Trowulan dan sekitarnya, diketahui dengan jelas adanya kanal-kanal berupa jalur-jalur yang bersilangan saling tegak lurus dengan orientasi utara-selatan dan barat-timur. Di samping itu ada pula jalur-jalur yang agak menyerong. Lebar jalur-jalur tersebut bervariasi, umumnya antara 35 - 45 meter, tetapi ada pula yang hanya 12 meter dan ada yang mencapai 94 meter. Perbedaan lebar ini disebabkan oleh aktivitas penduduk masa kini berkenaan dengan pertanian dan pembuatan bata yang cenderung mengikis tanggul-tanggul kanal tersebut atau membuat jalur barru yang polanya sama dengan kanal-kanal yang sudah ada (utara-selatan atau barat-timur). Melihat kegiatan masyarakat masa kini kanal-kanal tersebut dahulu tentunya tidak selebar yang terlihat sekarang.

Kanal-kanal ini di daerah pemukiman terlihat jelas sebagai daerah yang lebih rendah dan merupakan daerah pesawahan. Pengeboran yang pernah dilakukan pada sejumlah kanal memperlihatkan adanya lapisan sedimentasi sampai sedalam empat meter. Hal ini menunjukkan bahwa jalur-jalur tersebut dahulu jauh lebih dalam dari sekarang dan dialiri oleh air. Di samping itu, di daerah yang padat temuan arkeologinya, yang diperkirakan sebagai pusat kota, pernah ditemukan susunan bata setinggi 2,5 meter, yang memberi kesan bahwa dahulu kanal-kanal tersebut diberi tanggul. Pada waktu yang lalu kedua tepi kanal yang terletak di daerah Kedaton yang lebarnya 26 meter diberi tanggul bata. Mungkin tidak semua kanal di situs ini diberi tanggul, hanya pada lokasi-lokasi tertentu yang dianggap penting untuk diperkuat.

Kanal-kanal ini ada yang ujungnya berakhir di Waduk Temon dan Kali Gunting. Sekurang-kurangnya tiga kanal mempunyai ujung yang berakhir di Kali Kepiting, di selatan kota Majapahit. Kali kepiting ini memperoleh airnya dari Waduk Temon.

Kanal. waduk, dan kolam buatan ini didukung pula oleh saluran-saluran air yang lebih kecil, yang merupakan bagian dari sistem jaringan air di Majapahit. Di Trowulan gorong-gorong yang dibangun dari bata sering ditemukan. Ukurannya yang cukup besar memungkinkan orang dewasa untuk masuk ke dalamnya. Candi Tikus yang merupakan pemandian (petirtan) misalnya, mempunyai gorong-gorong yang besar untuk menyalurkan airnya ke dalam dan ke luar candi. Selain gorong-gorong atau saluran bawah tanah, banyak pula ditemukan saluran terbuka untuk mengairi sawah-sawah. Di samping itu, ditemukan pula pipa-pipa terakota yang kemungkinan besar digunakan untuk menyalurkan air ke rumah-rumah, serta selokan-selokan dari susunan bata di antara sisa-sisa rumah-rumah kuno. Hal ini menunjukkan bagaimana masyarakat Majapahit telah mempunyai kesadaran yang tinggi terhadap sanitasi dan pengendalian air.

Jelaslah bahwa ada kaitan yang erat antara kanal, waduk kuno serta kolam buatan yang ada di kota Majapahit. Bangunan-bangunan air ini dibuat dengan perencanaan yang matang dan tenaga manusia yang tidak sedikit. Tampaknya pembangunan waduk-waduk yang umumnya terletak di timur dan tenggara pusat kota ini selain untuk menampung air untuk irigasi, dimaksudkan juga untuk mengendalikan air pada musim hujan. Waduk-waduk ini dapat menampung luapan air agar pusat kota terhindar dari bahaya banjir. Kanal-kanal yang cukup lebar menimbulkan dugaan bahwa fungsinya bukan sekedar untuk mengairi sawah (irigasi), tetapi mungkin juga untuk sarana transportasi yang dapat dilalui oleh perahu kecil. Hal lain yang dapat diperhitungkan adalah kemungkinan kanal-kanal tersebut mempunyai arti kosmomagis, dimana iklim daerah Trowulan yang kemaraunya lebih panjang akan menjadi lebih sejuk.

Melihat besarnya bangunan-bangunan air ini dapat diperkirakan bahwa pembangunannya membutuhkan suatu sistem organisasi yang teratur, bukan saja dalam hal pengaturan sumberdaya manusianya, tetapi juga penyediaan logistik bagi para pekerja. Pemeliharaan bangunan-bangunan air serta jaringan pendukungnya juga membutuhkan struktur masyarakat yang teratur dan terkoordinir dengan baik. Skala bangunan air yang ada jelas menunjukkan bahwa masyarakat yang menghasilkannya merupakan masyarakat perkotaan yang maju dan sadar bahwa daerah hunian mereka merupakan daerah rawan banjir, tetapi dapat dikendalikan. Hal ini terbukti dari pengetahuan dan teknologi yang mereka miliki yang memungkinkan mereka mampu mengendalikan banjir dan menjadikan pusat kota terlindung serta aman dihuni. Bukti-bukti di lapangan menunjukkan bahwa ada sebagian pemukiman, termasuk Gapura Bajangratu, dibangun di atas lapisan lahar. Hal ini memperlihatkan bahwa perkembangan penduduk telah menyebutkan dibukanya lahan baru bagi pemukiman dan pertanian, termasuk daerah-daerah yang dianggap kurang ideal karena letaknya di bagian yang sering terlanda banjir. Dengan dibangunnya waduk-waduk dan kanal-kanal yang dapat mengendalikan banjir, maka wilayah yang sebelumnya rawan banjir dapat dilindungi dan dikembangkan sebagai tempat pemukiman dan pertanian.

Sampai sekarang baik dari prasasti maupun naskah-naskah kuno, tidak diperoleh keterangan mengenai kapan waduk dan kanal-kanal ini dibangun serta berapa lama berfungsinya. Rusaknya waduk dan kanal-kanal ini mungkin diawali oleh letusan Gunung Anjasmoro pada tahun 1451 yang membawa lapisan lahar yang tebal yang membobol Waduk Baureno dan mengakibatkan kerusakan pada waduk-waduk lain serta sistern jaringan air yang ada di kota Majapahit. Pada sisa waduk-waduk tersebut terlihat lapisan lahar yang menutupi dasarnya. Candi Tikus yang letaknya di antara Waduk Kumitir dan Waduk Kraton bahkan seluruhya pernah tertutup oleh lahar. Keadaan kerajaan yang kacau karena perebutan kekuasaan, ditambah dengan munculnya kekuasaan baru di daerah pesisir menyebabkan kerusakan bangunan-bangunan air di kota Majapahit tidak dapat diperbaiki seperti sediakala. Erosi dan banjir yang terus menerus terjadi mengakibatkan daerah ini tidak layak dihuni dan pertanian tidak lagi menghasilkan panen yang menguntungkan. Hal inilah yang kemungkinan besar mengakibatkan kota Majapahit semakin tidak terawat dan perlahan-lahan ditinggalkan oleh penduduknya. WHD No. 506 Pebruari 2009.

Kerajaan Majapahit Selayang Pandang

Sejarah Kerajaan masa Hindu Budha di daerah Jawa Timur dapat dibagi menjadi 3 periode. Periode Pertama adalah raja-raja dan Kerajaan Kediri yang memermtah sejak abad ke 10 M hingga tahun 1222 M. Periode Kedua dilanjutkan oleh pemerintahan raja-raja dan masa Singosari yang memerintah dan tahun 1222 M hingga tahun 1293 M. Periode Ketiga adalah masa pemerintahan raja-raja Majapahit yang berlangsung dan tahun 1293 M hmgga awal abad ke 6 M.

Pendiri kerajaan Majapahit adalah Raden Wijaya. Ia merupakan raja pertama Majapahit dengan gelar Kertarajasa Jayawardhana. Pada awalnya, pusat pemerintahan kerajaan Majapahit berada di daerah Hutan Tarik. Karena di wilayah tersebut banyak ditemui pohon maja yang buahnya terasa pahit, maka kerajaan Raden Wijaya kemudian dinamakan Majapahit. Raden Wijaya memerintah dan tahun 1293 M hingga 1309 M.

Tampuk pemerintahan kemudian digantikan oleh Kaligemet yang merupakan putra Raden Wijaya dengan Parameswari. Pada saat itu, usia Kaligemet masih relatif muda. Ia kemudian bergelar Jayanegara. Pada masa pemerintahannya, banyak terjadi pemberontakan. Pada akhirnya pada tahun 1328 M Jayanegara terbunuh oleh tabib pribadinya yang bemama Tanca. Roda kekuasaan kemudian diambil alih oleh Raja Patni kemudian mengundurkan diri sebagai raja dan menjadi pendeta Budha. Tampuk pemerintahan kernudian diserahkan ke anaknya yang bernama Tribhuana Wijayatunggadewi. Dalam menjalankan pemerintahannya, ia dibantu oleh patih Gajah Mada.

Majapahit kemudian tumbuh menjadi negara yang besar dan termashyur baik di Kepulauan Nusantara maupun luar negeri. Pada tahui 1350 M, Tribuana Tunggadewi kemudian mengundurkan diri. Tampuk kekuasaan kemudian dilanjutkan oleh anaknya yang bemama Hayam Wuruk. Pada masa pemerintahan Hayam Wuruk, Majapahit kemudian mencapai masa keemasan hingga patih Gajah Mada meninggal pada tahun 1365 M. Terlebih ketika Hayam Wuruk meninggal pada tahun 1389, negara Majapahit mengalami kegoncangan akibat konflik saudara yang saling berebut kekuasaan.

Pengganti Hayam Wuruk adalah putrinya yang bernama Kusumawardhani yang menikah dengan Wikramawardhana. Sementara itu, Wirabhumi yaitu putra Hayam Wuruk dan selir menuntut juga tahta kerajaan. Untuk mengatasi konflik tersebut, Majapahit kemudian dibagi menjadi dua bagian, yaitu wilayah timur dikuasai oleh Wirabhumi dan wilayah Barat diperintah oleh Wikramawardhana bersama Kusumawardhani. Namun ketegangan di antara keduanya masih berlanjut hingga kemudian terjadi perang saudara yang disebut dengan “Paragreg” yang berlangsung dan tahun 1403 hingga 1406 M. Perang tersebut dimenangkan oleh Wikramawardhana yang kemudian menyatukan kembali wilayah Majapahit. Ia kemudian memerintah hingga tahun 1429M.

Wikramawardhana kemudian diganti oleh putrinya yang bernama Suhita yang memerintah dari tahun 1429 hingga 1447M. Suhita adalah anak kedua Wikramawardhana dan selir. Selir tersebut merupakan putri Wirabhumi. Diharapkan dengan diangkatnya Suhita menjadi raja akan meredakan persengketaan.

Ketika Suhita wafat, tampuk kekuasaan kemudian digantikan oleh Kertawijaya yang merupakan putra Wikramawardhana. Pemerintahannya berlangsung singkat hingga tahun 1451 M. Sepeninggalnya Kertawijaya, Bhre Pamotan kemudian menjadi raja dengan gelar Sri Raja Sawardhana dan berkedudukan di Kahuripan. Masa pemerintahannya sangat singkat hingga tahun 1453 M. Kemudian selama tiga tahun Majapahit mengalami “Interregnum” yang mengakibatkan lemahnya pemerintahan baik di pusat maupun di daerah. Pada tahun 1456 M, Bhre Wengker kemudian tampil memegang pemerintahan. Ia adalah putra Raja Kertawijaya. Pada tahun 1466, ia meninggal dan kemudian digantikan oleh Bhre Pandan Salas yang bergelar Singhawikramawardhana. Namun pada tahun 1468, Kertabumi menyatakan dirinya sebagai penguasa Majahit yang memerintah di Tumapel, sedangkan Singhawikramawardhana digantikan oleh putranya yang bemama Rana Wijaya yang memerintah dari tahun 1447 hingga 1519 M. Pada tahun 1478 M ia mengadakan serangan terhadap Kertabumi dan berhasil mempersatukan kembali kerajaan Majapahit yang terpecah-pecah karena perang saudara. Rana Wijaya bergelar Grindrawardana.

Kondisi kerajaan Majapahit yang telah rapuh dari dalam dan disertai munculnya perkembangan baru pengaruh Islam di daerah pesisir utara Jawa, pada akhirnya menyebabkan kekuasaan Majapahit tidak dapat dipertahankan lagi.

Perekonomian Masa Majapahit
Tidak diragukan lagi bahwa salah satu faktor yang mendorong kebesaran Majapahit adalah tumbuhnya perekonomian yang berbasis pada sektor pertanian yang produktif. Kondisi geografis daerah Trowulan yang terletak di pedalaman tidak hanya memiliki kesesuaian sebagai sebuah perkotaan, tetapi juga mengindikasikan sebagai sebuah perkotaan agraris. Untuk. mendukung pertanian, dibangun pula beberapa infrastruktur untuk mengelola air di kawasan ini.

Berdasarkan bukti-bukti sejarah dan arkeologis dapat diketahui bahwa laju pertumbuhan ekonomi Majapahit didorong oleh kegiatan dan terbentuknya jejaring perniagaan baik lokal maupun regional. Dalam Ying-yai Sheng-lan disebut beberapa kota pelabuhan yang berada di bawah kekuasaan Majapahit yaitu Tuban, Gresik, dan Surabaya. Pelabuhan tersebut telah dikunjungi pedagang asing dari Arab Persia, Turki, India, dan Cina. Pedagang Majapahit tidak hanya terbatas melakukan perdagangan di wilayahnya. Mereka juga pergi ke pulau-pulau lain seperti : Banda, Ternate, Ambon, Banjarmasin, Malaka, hingga ke kepulauan Philippina. Beberapa daerah tersebut tercatat dalam Kitab Negarakertagama dan termasuk kategori negeri yang menyerahkan upeti dalam sistem pertukaran Tributari. Pedagang Majapahit membawa beras dan hasil bumi yang dipertukarkan dengan barang lain seperti keramik, tekstil, dan rempah rempah.

Bukti clan kegiatan perekonomian Majapahit tersebut dapat diamati dengan ditemukannya beberapa tinggalan arkeologis yang berasal dari luar seperti keramik porselin Cina, yang sebagian besar berasal dari dinasti Song. Selain itu, ditemukan juga keramik Vietnam dan Keramik Thailand. Sepertinya, barang-barang tersebut termasuk yang digemari orang Majapahit.

Selain pertukaran barang (sistem Tributari), mata uang juga telah digunakan dalam transaksi jual beli. Jenis mata uang ini antara lain uang lokal seperti uang gobog, dan uang Ma dari perak atau emas. Kepeng Cina dari dinasti Tang, Song, Ming dan Qing juga berlaku di Majapahit. Dalam transaksi jual beli, alat satuan ukur seperti timbangan dan terakota dari batu juga telah dikenal.

Religi dan Kesusastraan
Kehidupan religius pada masa Majapahit telah memberikan andil yang besar dalam perkembangan peradaban manusia Majapahit. Semuanya itu terekam dan tersurat dalam karya-karya sastra yang sangat indah dan bermutu di antaranya seperti Kakawin Negarakertagama, Arjunawiwaha, Sutasoma, Lubdhaka, Writasanaya, dan Kunjarakama.

Dalam Negarakertagama, Prapanca menuliskan bahwa terdapat 3 pejabat pemerintahan yang mengurusi agama yaitu Dharmadhyaksa Kasewan untuk agama Siwa, Dharmadhyaksa Kasogatan untuk agama Budha, dan Menteni Herhaji untuk aliran Karsyan. Pejabat-pejabat ini dibantu oleh Dharma-Upapati yang mengurusi sekte-sekte seperti Sivasiddhanta, dan Bhairawapaksa.

Kehidupan religius Majapahit mencapai tahap perkembangan yang belum pernah terjadi pada masa-masa sebelumnya, yaitu adanya penyatuan antara agama Siwa-Budha. Pertemuan lintas agama tersebut terjadi pada tataran kebenaran tertinggi, tetapi dalam praktek ritual ibadah keduanya tetap terpisah. Paham raja sebagai titisan dewa yang dianut kerajaan dimanifestasikan dalam pembuatan arca perwujudan dari raja-raja yang telah wafat yang didharmakan dalam sebuah percandian.

Di Kerajaan Majapahit juga berkembang agama Karesian yang dikembangkan dalam sekolah yang dipimpin para pendeta (rsi). Dasar ajarannya adalah sekte Sivasiddhanta, di mana meditasi dipandang sebagai cara untuk mencapai realitas yang absolut. Ajarannya berkembang dalam masyarakat dan bercampur dengan kepercayaan tradisioital yang asli. Ritusnya diwujudkan sebagai perjalanan menuju tingkat-tingkat kesempurnaan hidup.

Mereka mengisolasi diri di gunung-gunung dan tempat sunyi sebagai rangkaian pengajaran. Meditasi dilakukan di berbagai pertapaan antara lain Gunung Penanggungan, gunung Arjuna dan Sukuh. Kehadiran Islam mewarnai ragam agama yang berkembang di Majapahit. Tidak kurang dari 30 nisan ditemukan di komplek kuburan Troloyo dan sekitarnya. Sebagian besar nisan memuat tanggal antara rentang waktu 1356-1475 M. Dengan demikian, kita dapat mengartikan bahwa agama Islam telah ada ketika Majapahit berada di puncak kejayaan pada masa Hayam Wuruk. Majapahit telah menunjukkan sebagai negara yang terbuka, multikultur, dan masyarakat hidup dengan berbagai aliran keagamaan secara berdampingan.

Teknologi dan Kesenian Masa Majapahit
Keagungan karya arsitektur masa Majapahit yang dapat disaksikan kini tidak lain merupakan cerminan dan kemampuan mewujudkan simbol dan spirit religius dewa-raja melalui perpaduan keunggulan teknologi rancang bangun dan kesenin. Sosoknya hadir dalam percandian yang dipersembahkan sebagai pendharmaan bagi raja, titisan Sang Dewa, yang mangkat.

Kitab Negarakertagama menyebutkan 27 buah percandian, tetapi hanya beberapa diantaranya yang masih dapat kita kenali saat ini seperti Candi Singosari, Candi Kidal, Candi Jago, Candi Jawi, Candi Simping dan Bhayalango. Ciri yang menyertai percandian Majapahit adalah kaki candi yang tinggi bertingkat dengan tubuh candi dibalut bingkai melingkar, dan atap candi yang tinggi menyita pandangan. Kita juga mengenal arsitektur Majapahit dan bangunan Profan (bukan bersifat religius) seperti gapura, pertirtaan dan kolam.

Potret arsitektur perkotaan Majapahit selintas tergambar dan sebuah kesaksian musafir Cina Ma Huan, si penulis Kitab Ying-Yai Sheng-Lan. Majapahit atau Man-Che-Po-i digambarkan sebagai tempat tinggal raja yang dikelilingi tembok bata. Keraton tampak seperti rumah bertingkat dan atapnya terbuat dari kayu tipis yang disusun seperti ubin keramik (sirap). Lantainya terbuat dari papan yang ditutupi anyaman tikar pandan atau rotan. Rumah penduduk biasa umumnya beratap jerami. Mereka memiliki peti dari batu yang dipakai untuk menyimpan harta milik.

Berdasarkan berbagai sumber seperti relief candi di Jawa Timur dan miniatur rumah terakota, maka dapat diperkirakan bentuk arsitektur bangunan tinggal pada masa Majapahit. Pada masa awal diperkirakan konstruksi bangunan terbuat dari kayu yang berdiri di atas batur.

Di dalam rumah tersebut belum terdapat pembatas ruangan secara permanen Penutup atapnya genteng. Bangunan seperti ini mungkin digunakan sebagai pendopo atau bale, tempat istirahat, dan tidur. Pada masa akhir Majapahit, rumah tinggal sudah memiliki pembatas.

Berdasarkan berbagai sumber tertulis didapatkan pula gambaran mengenai tata ruang perkotaan Majapahit. Kota Majapahit berorientasi ke utara. Semua bagian penting berada di utara termasuk keraton. Pemukiman rakyat berada di sebelah selatan. Pola kota terbagi menjadi 9 zona yang dibatasi oleh jalan-jalan yang berpotongan. Tempat tinggal raja terletak di tengah, sedangkan bangunan suci berada di sebelah barat daya kota.

Namun demikian, hanya dengan pengujian arkeologis kita dapat memastikan apakah pola seperti mi yang digunakan pada masa Majapahit. Di Situs Trowulan ditemukan pula jenis-jenis barang yang terbuat dan lempung bakar atau terakota dalam jumlah yang sangat melimpah. Dapat disimpulkan bahwa ketika itu terakota sangat berperan dalam kehidupan penduduk kota. Terakota Majapahit dan Situs Trowulan amat kaya ragamnya, di antaranya seperti unsur bangunan (bata, genteng, jobong sumur, pipa saluran), wadah (periuk, pasu, kendi, tempayan, boneka, vas bunga), ritus religi (sesaji, meterai), dan alat kebutuhan praktis lainnya seperti timbangan, dan lampu (clupak). Sebagian besar terakota ini diduga merupakan buatan setempat karena ditemukan alat produksinya yang berupa pelandas. Selain terakota, di Situs Trowulan banyak ditemukan juga berbagai benda yang terbuat dari bahan logam dan batu seperti genta, guci amerta dan arca, yang telah memiliki nilai seni yang cukup tinggi.

Peraturan Pada Masa Majapahit
Untuk mengatur ehidupan rakyatnya, kerajaan Majapahit telah memiliki sejumlah peraturan yang terkumpul dalam kitab perundangundangan. Kitab tersebut berisi baik tentang hukum idana maupun hukum perdata. Peraturan tersebut berlaku bagi setiap orang. Hal ini dapat dilihat dari pasal 6 Kitab Agama yang berbunyi “Hamba raja mesti ia mentri sekalipun jika menjalankan dusta, corah dan tatayi akan dikenakan pidana pati”. Selain itu, menurut kitab perundang-undangan Majapahit pasal 259 dan 261 berbunyi” barang siapa menelantarkan sawah dan ternaknya akan dikenakan denda atau diperlakukan sebagai pencuri dan dikenakan pidana mati”. Latar belakang peraturan ini kemungkinan disebabkan karena Hayam Wuruk sadar bahwa penggarapan sawah dan pemeliharaan ternak yang baik dapat mempengaruhi perekonomian rakyat dan negara.

Struktur Pemerintahan
Sebagai kerajaan yang besar, Majapahit mempunyai aparat pemerintahan yang lengkap. Raja mempunyai banyak pembantu sebagai pelaksana. Hierarkhi pemerintahan kerajaan Majapahit adalah sebagai berikut:

1. Raja; merupakan pemegang pucuk pimpinan kerajaan.
2. Tuwaraja/Kumararaja; jabatan yang diduduki oleh putra/putri raja.
3. Rakyan Mahamantri Katrini; dewan yang bertugas melaksanakan politik negara.
4. Rakyan Mahamantri ri Pakirankiran; dewan ini juga melaksanakan politik negara.
5. Dharmadyaksa; merupakan kepala bidang agama.
6. Dharmopapati; merupakan dewan yang juga mengurusi keagamaan.
WHD. No. 506 Pebruari 2009.

Keramik Asing di Situs Kota Majapahit

Salah satu jenis benda yang mudah ditemukan hampir di seluruh permukaan tanah situ-kota Majapahit di Trowulan seluas 9 x 11 km adalah pecahan-pecahan keramik asing. Aktivitas masyarakat sekarang ketika mengolah lahan memungkinkan benda benda itu muncul ke permukaan dalam jumlah yang tidak sedikit. Demikian pula dari kegiatan ekskavasi arkeologi, pecahan-pecahannya terlihat di berbagai lapisan tanah yang berbeda. Kenyataan itu membuktikan bahwa masyarakat Majapahit sudah terbiasa menggunakan keramik untuk keperluan hidupnya.

ImageRatusan ribu pecahan keramik asing yang telah ditemukan mencakup beragam bentuk wadah seperti ternpayan, guci, buli-buli, cepuk, pasu, piring, mangkok, kendi, jambangan, vas, dan botol; bahkan wadah-wadah seperti bagian-bagian bangunan, figurin, kelereng, dan lain-lain. Semua itu dalam berbagai bentuk, hiasan, warna maupun ukuran. Keanekaragaman bentuk tersebut menggambarkan bermacam peralatan yang digunakan saat itu dalam kehidupan masyarakat. Kenyataan juga menunjukkan bahwa keramik berglasir selain digunakan sebagai perlengkapan hidup, juga telah dijadikan model untuk mengembangkan berbagai variasi bentuk benda dari tanah liat, karena beberapa bentuk benda dari tanah liat, ditemukan serupa dengan keramik berglasir. Dari tampakan wujudnya, yaitu bahan dasar berwarna putih, permukaannya diberi lapisan glasir sehingga tampak kilap, menunjukkan bahwa jenis benda seperti itu bukanlah produksi setempat. Kaolin, bahan baku utamanya sama sekali tidak tersedia di sekitar daerah Trowulan.

Barang-barang keramik ini sebagian besar berasal dari Cina, pada masa dinasti Song abad X - XIII hingga dinasti Qing abad AXVII-XX; dan sebagian kecil dari wilayah Asia Tenggara Daratan antara lain dari Vietnam, Thailand, dan Kamboja, darimasa antara abad XII-XVIII. Di antara asal keramik seperti tersebut diatas, paling banyak ternyata berasal dari masa dinasti Yuan dan Ming awal (antara abad XIII hingga XV). Sementara itu dari kedua masa itu yang terbanyak adalah mangkok berwarna hijau keabuan, biasa disebut seladon, dibuat dari bahan batuan (stoneware) berwarna abu-abu dengan tekstur padat. Kebanyakan bagian dasar dalamnya terdapat hiasan goresan flora dalam lingkaran tidak berglasir atau ‘tapal kuda’ (biscuited ring). Selain seladon, banyak juga ditemukan keramik berwarna putih dengan hiasan warna biru yang diberi lapisan transparan. Kebanyakan hiasan pada mangkok jenis ini memiliki motif bunga peony dan geometris. Warnawarna lain seperti coklat kekuningan, hitam, coklat kehitaman, hijau, putih kebiruan terdapat antara lain pada bentuk-bentuk seperti tempayan, guci, kendi, cepuk, botol, dsb.

Selain keramik Cina, keramik Thailand (khususnya buatan Sawankhalok dan Sukothai) dari masa yang sejaman juga cukup banyak ditemukan. Wadah-wadah buatan Sawankhalok di antaranya berupa mangkok seladon, buli-buli cokiat kehitaman dengan 2 kupingan di bagian tepian; sedangkan dari Sukothai terutama piring berwarna putih dengan hiasan ikan warna coklat kehitaman di bagian dasar dalam.

Selain ke dua tempat asal tersebut di atas ditemukan pula banyak keramik buatan Vietnam sejaman. Umumnya berupa mangkok berwarna coklat, putih dengan hiasan biru. hijau, dan putih kekreman; sedangkan cepuk cenderung berwarna putih dengan hiasan biru. Yang menarik adalah adanya bahan bangunan di antara keramik-keramik buatan Vietnam. Jenis ini sama sekali tidak dijumpai di antara keramik-keramik berglasir buatan Cina maupun Thailand. Gejala ini memunculkan dugaan bahwa bentuk tersebut hanya merupakan pesanan khusus semata.

Seperti disebutkan di atas, masa pemakaian keramik berglasir buatan luar Majapahit mencapai rentang masa yang cukup panjang, yaitu dari Song akhir (abad XIII) sampai dengan Qing (awal abad XX), dengan masa puncak kejayaan pemakaian antara abad XIII hingga abad ke XV. Rentang waktu yang mencapai beberapa abad tersebut mencerminkan adanya kegiatan perdagangan keramik internasional yang bersifat berkesinambungan. Keadaan tersebut tidak menutup kemungkinan bahwa pada waktu itu terdapat suatu badan yang mengelola jual beli komoditi tersebut.

Lebih banyaknya keramik buatan Cina dibandingkan dari daerah lainnya mungkin menunjukkan bahwa buatan Cina lebih disukai dibandingkan yang lain, atau karena tersedia dalam jumlah yang cukup, dianggap mempunyai mutu yang lebih baik, atau keramik Cina memang mendominasi pasar, sehingga keramik lain memang kurang mendapat perhatian.

Melimpahnya temuan keramik di Trowulan ternyata sesuai dengan berita tertulis yang menyebutkan bahwa banyak pedagang Cina di Majapahit yang membawa barang dagangan, diantaranya porselin yang merupakan bagian dari barang bawaan pedagang Cina yang banyak mengalir ke Majapahit. setidaknya dari berita Dinasti Ming disebutkan bahwa orang Majapahit sangat menyukai piring-piring seladon atau piring-piring biru putih berhiasan bunga (Satari 1984). Selain itu menurut Watt (1984) jenis keramik yang merupakan mayoritas temuan di situs Trowulan adalah wadah-wadah dari tungku Longquan. Jenis ini merupakan jenis yang banyak diproduksi dan diperdagangkan, dan masa-masa produksi tersebut merupakan masa kejayaan perdagangan Cina dengan negara luar. Berita tentang pemuatan keramik jenis green ware atau barang-barang hijau disebut pula dalam ekspedisi Shun-Feng-Hsiang-Sung, yang berisi kumpulan jalur navigasi yang dilalui kapal Cina beserta barang-barang yag dikirimkan (Feng 1981 dan Milla 1984).

Pedagang Cina yang banyak berdatangan pada masa itu langsung membawa keramik dari negerinya, juga kemungkinan besar membawa keramik dari Vietnam dan Thailand. Selain pedagang Cina, tidak tertutup kemungkinan saudagar-saudagar India, Arab, Gujarat, Persia dan bangsa lain memperjual-belikan berbagai komoditi dari berbagai daerah, sehingga dapat dikatakan Majapahit sebagai pusat kegiatan perdagangan yang bersifat internasional. WHD. No. 506 Pebruari 2009.

Majapahit Dalam Sejarah ( 2 )

Pencapaian peradaban dalam masa Majapahit terjadi pula dalam. bidang seni arca yang mempunyai bentuk dan gaya tersendiri. Jumlah arca yang dihasilkan dalam era Majapahit cukup banyak. Arca-arca tersebut ada yang berasal dari periode awal, kejayaan, kemunduran dan keruntuhan Majapahit. Ciri khas bentuk arca Majapahit telah ditelaah oleh para ahli. Salah satu cirinya yang kuat adalah terdapatnya garis-garis di sekitar tubuh arca. Garis ini sebagai garis sinar yang lazim disebut dengan “sinar Majapahit”. Adapun bentuk relief lingkaran yang dilengkapi dengan garis-garis sinar seringkali didapatkan di beberapa bagian candi yang disebut dengan “Surya Majapahit”.

N.J. Krom pernah mengemukakan dalam artikelnya yang berjudul “De beliden van Tjandi Rimbi’ (1912) tentang ciri-ciri arca masa Majapahit sebagai berikut:
1. Pada kedua sisi arca dihias dengan padma yang ke luar dari pot/vas bunga.
2. Hiasan kepala (mahkota) berbentuk kerucut (kirita makuta) dan terdapat pula ikat kepala di dahi (jamang).
3. Perhiasan telinga berbentuk memanjang.
4. Gerai rambut dihias dengan makara atau perhiasan lain yang sesuai.
5. Tubuh bagian atas terbuka (tidak. memakai pakaian) kecuali perhiasan tali dada atau tali kasta (upawita).
6. Terdapat ikat pinggang di bawah dada (anteng).
7. Digambarkan mengenakan kain sarung berlapis-lapis.
8. Ikat pinggang setinggi perut, di bawahnya terdapat lipatan kain yang terlihat. Selain itu, dibawah lipatan terdapat ujung tali yang menggantung di bahu kiri.
9. Pada kedua kaki menjunfai tali-tali dari ikat pinggang setinggi perut dan di ujung tali terdapat hiasan.
10. Wiru dan kain pada kedua sisi ‘tubuh dan di antara dua kaki, ujungnya terbelah berbentuk ekor burung layang-layang.
11. Memakai gelang tangan, kelat bahu dan gelang kaki yang lebar.

Hal yang perlu diperhatikan adalah bahwa tidak semua ciri arca tersebut dapat secara lengkap dijumpai pada setiap arca masa Majapahit. Ciri-ciri tersebut hanya hadir pada beberapa arca penting saja, seperti arca Hari-Hara dari Candi Sumberjati, arca Parwati dari Candi Ngrimbi, arca perwujudan sepasang tokoh dan arca “Ratu Suhita” Arca-arca era Majapahit lainnya mungkin hanya memiliki sebagian ciri saja. Walaupun demikian, cukup untuk diidentifikasikan sebagai arca gaya seni Majapahit. Justru ciri yang kerapkali didapatkan pada arca-arca Majapahit, oleh Krom malah dilupakan, yaitu adanya “Sinar Majapahit” yang keluar disekeliling tubuh arca. Mungkin saja pada masa Krom menyusun karyanya, temuan arca-arca Majapahit dengan “Sinar Majapahit” belum banyak ditemukan sehingga ciri penting tersebut belum dimasukkan oleh Krom sebagai salah satu ciri arca masa Majapahit.

Pendapat Krom itu lalu mendapat “penjelasan” lebih lanjut dari W.F. Stutterheim dalam karyanya “De dateering van eenige Oost-Javaansche beeldengroepen“. Pendapat Krom antara lain menyatakan bahwa ciri arca Majapahit yang penting adalah terdapatnya bunga teratai yang keluar dari pos/vas di kanan-kiri arca, sedangkan ciri seni arca Singhasari adalah terdapat bentuk bunga teratai yang langsung keluar dari akarnya (bonggolnya) disisi kanan-kiri tubuh arca. Stutterheim menyatakan bahwa ciri teratai yang keluar dari pot sebenarnya tidak menandai zaman/periode gaya seni Singhasari ataupun Majapahit. Ciri tersebut sebenarnya menandai dinasti atau keluarga raja.

Selanjutnya, Stutterheim mengemukakan bahwa arca-arca yang diapit oleh teratai yang keluar langsung dari bonggol (akarnya) sebenarnya dapat dihubungkan dengan penggambaran raja-raja Singhasari dan keluarganya. Apabila ada keluarga Raja Singhasari mangkat dan kemudian diarcakan dalam bentuk arca perwujudan, maka arca-arca itu digambarkan dengan diapit teratai yang keluar dari akarnya, sedangkan raja-raja Majapahit dan keluarganya jika diwujudkan dalam bentuk arca, penggambarannya diapit oleh teratai yang keluar dari dalam wadah (vas, periuk, pot atau lainnya lagi).

Pendapat Stuterheim tersebut agaknya benar. Hal ini terbukti dengan arca perwujudan Rajapatni Gayatri yang berupa Prajnaparamita di Candi Bayalango. Penggambarannya diapit oleh sepasang teratai yang keluar dari bonggolnya. Menurut Nagarakrtagama, Gayatri wafat tahun 1272 S/1350 M. Ia kemudian di-dharma-kan di Bayalan. Arcanya berwujuci Prajnaparamita. Gayatri meninggal dalam masa pemerintahan Hayam Wuruk. Jika mengikuti pendapat Krom, seharusnya arca Prajnaparamita tersebut diapit teratai yang ke luar dari suatu wadah karena dibuat dalam masa Majapahit. Apabila mengikuti pendapat Stuttetheim, maka, arca tersebut menggambarkan Gayatri yang sebenarnya putri Raja Singhasari Krtanagara, raja terakhir Singhasari. Oleh karena itu, arca perwujudannya diapit oleh teratai yang keluar langsung dari bonggol akar-akarnya. Selain iu, arca Amoghapasa yang sekarang kepalanya hilang dan masih terdapat di halaman Candi Jago juga diapit oleh teratai yang keluar dari bonggolnya, artinya menggambarkan keluarga Raja Singhasari. Hal itu dapat dipahami karena arca tersebut menurut uraian kitab Pararaton menggambarkan Sri Rangga Wuni (Wisnuwarddhana) - ayahanda Krtanagara yang telah meninggal di-dharma-kan di Jajaghu atau Candi Jago sekarang.

Arca-arca dari masa Majapahit penggarapannya cukup halus sehingga dapat dianggap karya seni arca yang bermutu tinggi karena keindahannya, misalnya arca Hari-Hara (tinggi 2 m) dari Simping (Candi Sumberjati) di Blitar dan arca Dewi Parwati (tinggi 2 m) dari Candi Ngrimbi di Jombang. Kedua arca tersebut disimpan di Museum Nasional Jakarta. Arca Parwati diapit oleh teratai yang ke luar dari vas, menurut Stutterheim termasuk contoh gaya seni arca keluarga Majapahit. Arca Parwati itu sangat mungkin menggambarkan Ratu Tribhuwanottunggadewi Jayawisnuwarddhani, ibu Hayam Wuruk. Sebagaimana diketahui bahwa sang ratu adalah putri dari Raja Majapahit pertama, yaitu Krtarajasa Jawawarddhana.

Menurut Nagarakrtagama terdapat bermacarn bangunan suci yang dikenal dan dijaga oleh masyarakat dalam zaman kejayaan Wilwatikta. Bangunan-bangunan suci tersebut dibawah pengawasan dua orang dharmmadyaksa (pejabat tinggi keagamaan), yaitu dharmmadyaksa ring kasaiwan yang mengurus bangunan-bangunan suci yang bernafaskan agama Hindu-saiva dan dharmmadyaksa ring kasogatan yang menjaga bangunan-bangunan suci agama Budha Mahayana. Pejabat tinggi lainnya disebut dengan mantri her haji yang mengurusi tempat-tempat keagamaan kaum Rsi, seperti tempat pertapaan, pemukiman kaum agamawan (krsyan) dan juga pusat-pusat pendidikan agama (mandala dan kadewaguruan).

Bangunan-bangunan yang berada di bawah pengawasan dua dharmmadyaksa pada masa Majapahit disebutkan dalam Nagarakrtagama pupuh 76-77. Dharmmadyaksa ring kasaiwan mengawasi empat kelompok bangunan suci, yaitu;
1. Kuti Balay merupakan tempat pemujaan yang dilengkapi dengan bangunan pendopo (mandapa) tanpa dinding serta dilengkapi pula Bangunan tempat tinggal untuk para pendetanya (asrama).
2. Parhyangan merupakan tempat-tempat suci untuk memuja leluhur/nenek moyang (hyang).
3. Prasadha haji merupakan candi-candi kerajaan serta tempat pen-dharma-an kerabat raja.
4. Sphatika i hyang merupakan tempat-tempat peringatan (?) bagi leluhur.

Adapun dharmadyaksa ring kasogatan mengawasi tanah-tanah perdikan (sima) bagi kegiatan agama Budha yang terdiri atas dua kelompok, yaitu:
1. Kawinuya merupakan bangunan suci Budha yang secara umum bukan diperuntukkan bagi suatu sekte.
2. Kabajradharan merupakan bangunan suci sekte bajradara-tantrayana.

Mantri her haji/air haji pada masa Majapahit termasuk kelompok mangilala drbya haji, artinya para pejabat kerajaan yang “menikmati kekayaan raja” (digaji oleh kerajaan). Maka, mereka dilarang memungut biaya apapun dalam lingkungan daerah-daerah perdikan (sima). Menurut Nagarakrtagama pupuh 75:2 dan pupuh 78:1, tugas mantri air haji adalah mengawasi sejumlah krsyan yang terdiri atas Sampud, Rupit, Pilan, Pucangan, Pawitra, Jagaddita, Butun, arca-arca lingga, saluran-saluran air (pranala) dan pancuran (jaladwara) yang dikeramatkan terdapat di tempat-tempat itu.

Kata er, air dan her dalam bahasa Jawa Kuna berarti “air”. Jika kata itu digabungkan dengan haji, seperti erhaji, air haji atau her haji secara harafiah berarti “air raja”. Pengertian itu agaknya menunjukkan bahwa pejabat er haji sebenarnya mengurusi “air suci milik raja. Maka, “air suci” itu tidak lain adalah tempat petirthaan (patirthan) yang merupakan sumber air suci. Air ini dipercaya dapat menghilangkan bermacam klesa dan kotoran setara dengan air amerta. Pada umumnya patirthan terdapat di tempat yang jauh dari keramaian, seperti di lereng gunung, di pegunungan yang berhutan lebat (contohnya Jalatunda, Belahan, Kasurangganan dan Simbatan Wetan). Para pertapa (rsi) dan kaum agamawan lainnya bermukim di tempat-tempat itu. Oleh karena itu, dapat dipahami bahwa pejabat yang berjuluk mantri her haji mengurusi tempat-tempat bagi para pertapa dan kaum agamawan dalam perkampungan mereka (mandala).

Adapun mengenai bangunan pen-dharma-an dalam masa pemerintahan Hayam Wuruk didirikan bagi kerabat raja yang telah mangkat. Hal ini juga diuraikan dalam Nagarakrtagama.

Masa kejayaan Majapahit berlangsung dalam era pemerintahan Hayam Wuruk. Masa sebelumnya, kejayaan Majapahit baru mulai mendaki ke arah puncaknya. Pada masa pemerintahan Ratu Tribhuwanottunggadewi (1328-1350 M), ibunda Hayam Wuruk, Majapatih mulai melebarkan pengaruhnya ke luar Jawa, antara lain ke Bali. Penyerangan ke Bali dipimpin oleh Mahapatih Gajah Mada dan saudara sang ratu dari daerah Minangkabau, yaitu Aryya Wangsadhiraja Adityawarman. Pada waktu itu, Bali diperintah oleh Sri Asta Asura Ratna Bhumi Banten. Dia menurut uraian Nagarakrtagama bertingkah laku jahat dan nista sehingga perlu dihancurkan (Nag. 49 : 4). Menurut Pararaton, Gajah Mada mengucapkan sumpahnya yang terkenal pada masa pemerintahan Tribhuwanottunggadewi. Sumpah tersebut mampu dibuktikan dalam masa pemerintahan Hayam Wuruk yang berada di puncak kemegahan Wilwatikta.

Pada 1350 M, Dyah Hayam Wuruk naik tahta Majapahit menggantikan ibunya, yaitu Ratu Tribuwanottunggadewi Jayawisnuwarddhani. Sebelumnya, Hayam Wuruk berkedudukan sebagai rajakumara (raja muda) di Jiwana (Kahuripan). Kitab pararaton menyebut tokoh ini setelah meninggal dengan sebutan Bhra Hyang Welcasing Sukha, sedangkan nama Hayam Wuruk waktu kecil menurut Pararaton ialah Raden Tetep.

Masa pemerintahan Hayam Wuruk dianggap masa kejayaan Majapahit karena tidak ada konflik internal ataupun eksternal dengan daerah-daerah lainnya, kecuali peristiwa Pasundan-Bubat di tahun 1357 M. Daerah-daerah di luar Pulau Jawa (Nusantara) banyak yang mengakui kebesaran Majapahit. Hal ini terlihat dengan dikirimkannya utusan setiap tahun ke istana Hayam Wuruk. Pengiriman utusan atau upeti ke Majapahit bukan akibat penyerangan atas daerah-daerah tersebut, melainkan karena perjanalan muhibah armada dagang Majapahit yang megah ke daerah-daerah. Mereka lalu mengagumi kebesaran Majapahit sehingga daerah-daerah rela mengirimkan upetinya.

Menurut uraian Nagarakrtagama, pada masa pemerintahan Hayam Wuruk terdapat tahun-tahun penting yang berkenaan dengan kegiatan perjalanannya ke beberapa daerah di tlatah Jawa bagian timur tahun 1353 M mengadakan perjalanan ke Pajang, tahun 1354 M, perjalanan ke Pantai Lasem dan tahun 1357 M ke pantai selatan. Pada saat mengadakan peqalanan ke pantai selatan inilah terjadi peristiwa Pasundan-Bubat. Pada tahun itu juga, Laksmana Mpu Nala memimpin kunjungan muhibah armada Majapahit ke daerah Dompo.

Rute perjalanan yang paling panjang adalah ke Lumajang tahun 1359 M, Tarib dan Sampur tahun 1360 M. Pada 1361 M, Hayam Wuruk melakukan perjalanan ke Rabut Palah (kompleks Candi Penataran) yang merupakan candi Kerajaan Majapahit. Dia memenuhi titah ibunya untuk mengadakan upacara sraddha bagi neneknya Rajapatni Gayatri di tahun 1362 M. Upacara ini berlangsung meriah dan diakhiri dengan meletakkan arca Prajnaparamita di Candi Prajnaparamitapuri di Bhayanglango. Pada 1363 M, Hayam Wuruk meng4dakan perjalanan ke Simping (Sumberjati) untuk meresmikan bangunan candi yang konon baru dipindahkan ke lokasi barn. Candi tersebut dibangun untuk memuliakan eyang Hayam Wuruk, yaitu Raden Wijaya (Krtarajasa Jayawarddhana).

Pararaton menyatakan bahwa Gajah Mada mengundurkan din dan jabatannya setelah peristiwa Bubat, disebutkan “... samangka sira gajah mada mukti palapa. Mukti palapa dalam situasi ini bukanlah sumpah Amukti Palapa yang terkenal itu karena sumpah itu sudah lama diucapkannya dalam zaman pemerintahan ibunda Hayam Wuruk, Ratu Tribhuwanotunggadewi Jayawisnuwarddhani. Adapun mukti palapa dalam hal ini dapat diartikan sebagai “menikmati masa istirahat”.

Oleh karena itu, Hayam Wuruk menganugerahi Gajah Mada wilayah sima (daerah perdikan) untuk keperluan istirahatnya. Nagarakrtagama menyebutkan nama daerah itu sebagai Madakaripura. Tempat itu merupakan wilayah sunyi di pedalaman Jawa Timur sehingga cocok untuk Gajah Mada yang menarik diri dari dunia ramai. Selain itu, tempat itu juga disebut sebagai pesanggrahan bagi Gajah Mada. Hayam Wuruk pernah singgah di Madakaripura dalam perjalannnya ke Lumajang di tahun 1359 M. Sepeninggal Gajah Mada, Hayam Wuruk memanggil Pahom Narendra, yaitu dewan pertimbangan agung kerajaan yang beranggotakan:

1. Sri Kertawarddhana, ayahanda raja
2. Tribhuwananottunggadewi, ibunda raja
3. Rajadewi Maharajasa (bibi raja)
4. Wijayarajasa (suami Rajadewi Maharajasa)
5. Rajasaduhiteswari (adik pertama raja)
6. Singhawarddhana (suami Rajasaduhiteswari)
7. Rajasaduhitendudewi (adik ke-2 raja).
8. Raden Lanang/Bhre Matahun (suami Rajasaduhitendudewi).

Mereka berembuk untuk mencari siapa yang pantas menggantikan kedudukan Gajah Mada sebagai mahapatih Majapahit dengan tugas-tugas beratnya. Berdasarkan pertimbangan Pahom Narendra disimpulkan bahwa tidak ada seorang tokoh pun yang dapat menggantikan kedudukan Gajah Mada. Oleh karena itu, diangkatlah tiga tokoh yang melaksanakan tugas-tugas Gajah Mada, yaitu:

1. Aryyatmaja Pu Tanding sebagai wrddhamantri (menteri urusan dalam kerajaan).
2. Sang Arya Wira Mandalika Pu Nala menjadi menteri niancanagara
3. Patih Dami diangkat menjadi yawamantri.

Masa pemerintahan Hayan Wuruk tanpa patih amangkubumi hanya berlangsung tiga tahun. Dalam Pararaton disebutkan bahwa setelah tiga tahun terdapat kekosongan jabatan patih. Gajah Enggon kemudian diangkat menjadi patih amangkubumi Majapahit (1371-1398 M). Pada 1389 M Rajasanagara rneninggal, tetapi tempat suci untuk memuliakannya (pen-dharrna-an) belum diketahui secara pasti. Pen-dharma-an Hayam Wuruk diduga adalah Paramasukhapura di daerah Tanjung. Hal ini berdasarkan berita Pararaton karena disebutkan bahwa yang di-dharma-kan di tempat itu adalah Bhattara Hyang Wekasing Sukha, nama anumerta Hayam Wuruk.

Susunan Pemerintahan
Pada masa pemerintahan Rajasan agara, susunan pejabat pemerintahan kerajaan jauh lebih banyak daripada sebelumnya. Hal itu dapat diketahui dari uraian beberapa prasasti yang dikeluarkan oleh raja. Salah satu prasasti itu dinamakan prasasti Trowulan yang dikeluarkan tahun 1358 M. Prasasti itu antara lain menyebutkan bahwa nama resmi Hayam Wuruk setelah menjadi raja ialah Sri Tiktawilwa Nagareswara Sri Rajasanagara Namarajabhiseka. Pahom Narendra terdapat di bawah raja yang anggota-anggotanya telah diuraikan di bagian terdahulu. Raja dibantu oleh pejabat tinggi utama dalam melaksanakan pemerintahan, yaitu patih amangkubhumi. Pada saat itu adalah Gajah Mada atau Pu Mada.

Para pejabat tinggi kerajaan yang disebut tanda berada dibawah patih. Mereka terdiri atas beberapa peringkat. Pertama adalah mahamantri katrini yang terdiri dan mahaniantri i hino, i halu dan i sirikan. Kedua adalah pasangguhan atau hulubalang. Ketiga adalah rakryan mantri dwipantara, yaitu pejabat urusan daerah-daerah Nusantara. Keempat adalah sang panca Wilwatikta yang terdiri dan patih, kanuruhan, rangga dan tumenggung. Kelima adalah para pejabat juru pangalasan, yaitu pembesar daerah dan pembesar di negara bagian yang dilengkapi dengan para patih di daerah tersebut. Kelompok lairinya adalah para aryya, yaitu pejabat yang lebih rendah dan rakryan mantri. Para aryya dapat naik jabatannya apabila dianggap berjasa. Mereka dapat menjadi wrddhamantri (mentri senior). Selain para pejabat pemerintahan tersebut, ada juga para pejabat tinggi yang menangahi urusan keagamaan, yaitu Dharmadyaksa ring Kasaiwan yang mengurusi perihal agama Hindu-saiva, Dharmmadyaksa ring Kasogatan pejabat yang mengurusi agama Budha Mahayana dan mantri er haji (mantri her haji) pejabat yang mengurusi perihal kaum pertapa.

Dalam uraian kakawin Nagarakrtagama karya Mpu Prapanca - yang selesai digubah tahun 1365 - terdapat penyebutan wilayah-wilayah di luar Jawa yang mengakui kejayaan Majapahit. Prapanca menguraikannya dalam dua pupuh, yaitu pupuh 13 dan 14. Wilayah-wilayah itu terdapat di Sumatera, Semenanjung Melayu, Kalimantan, Sulawesi, Maluku, Nusa Tenggara dan daerah pantai Papua Barat. Adapun dalam baris satu pupuh 15 disebut adanya negara-negara sahabat Majapahit (mitra satata), seperti Syangka (Siam), Ayodhyapura (Ayuthia, pedalaman Thailand), Darmanagari (Dharmarajanagara/Ligor), Marutma (Martaban, selatan Thailand), Rajapura (Rajjpuri, daerah selatan Thailand), Singhaagari (daerah di tepi Sungai Menam), Campa, Kamboja dan Yawana (Annam, Vietnam). Hal yang menarik adalah bahwa Cina sebagai negara besar di Asia waktu itu tidak disebutkan oleh Prapanca sebagai salah satu mitra satata Majapahit. Namun demikian, cukup banyak peninggalan yang menunjukkan pengaruh budaya Cina ditemukan di situs Tnowulan bekas Kota Majapahit yang terletak di Mojokerto sekarang.

Sisi-sisi Peradaban Masyarakat Majapahit
Berdasarkan catatan musafir Cina bernama Ma Huan dapat diketahui bahwa kehidupan masyarakat dan perekonomian Majapahit masa itu relatif maju. Dia berkunjung ke Majapahit dalam masa akhir pemerintahan Hayam Wuruk. Catatan Ma Huan menguraikan antara lain sebagai berikut:

“Di Majapahit udaranya terus menerus panas, seperti musim panas di kita (Cina), panen padi 2 kali setahun, padinya kecilkecil, berasnya berwarna putih. Di sana juga ada buah jarak dan karapodang (kuning), tetapi tidak ada tanaman gandum. Kerajaan itu menghasilkan kayu sepang, kayu cendana, intan, besi, buah pala, cabe merah panjang, tempurung penyu baik yang masih mentah ataupun yang sudah dimasak. Burungnya anehaneh, ada nun sebesar ayam dengan aneka wama merah, hijau dan sebagainya. Bea yang semuanya dapat diajari berbicara seperti orang, kakaktua, merak dan lainnya lagi. Hewan yang mengagumkan adalah kijang dan kera putih, ternaknya adalah babi, kambing, sapi, kuda, ayam, itik, keledai dan angsa. Buah-buahannya adalah bermacam-macam pisang, kelapa, tebu, delima, manggis, langsap, semangka dan sebagainya. Bunga penting adalah teratai”.

Penduduk di pantai utara di kotakota pelabuhan, seperti Cresik, Tuban, Surabaya, dan Canggu kebanyakan menjadi pedagang. Kota-kota pelabuhan tersebut banyak dikunjungi oleh pedagang asing yang berasal dari Arab, India, Asia Tenggara dan Cina. Ma Huan memberitakan bahwa di kota-kota pelabuhan tersebut banyak orang Cina dan Arab menetap dan berdagang di kota-kotá tersebut.

Selanjutnya, laporan Ma Huan menyatakan bahwa ibukota Majapahit berpenduduk sekitar 200-300 keluarga. Suatu angka cukup besar untuk zaman itu. Penduduk telab memakai kain dan baju. Kaum lelaki berambut panjang yang diuraikan, sedangkan perempuannya bersanggul. Setiap laki-laki, mulai dari yang berumur tiga tahun ke atas, baik orang berada atau orang kebanyakan, mengenakan keris dengan pegangannya yang diukir indah-indah dan terbuat dan emas, cula badak, atau gading. Apabila bertengkar, mereka dengan cepat menyiapkan kerisnya. Pantangan bagi penduduk Jawa adalah memegang kepala orang lain karena merupakan penghinaan yang akan menimbulkan perkelahian berdarah.

Mereka duduk di rumahnya tdak menggunakan bangku, tidur tanpa ranjang dan makan tanpa memakai sumpit. Baik laki-laki atau pun perempuan senang memakan sirih sepanjang hari. Jadi, kalau ada tamu yang datang disuguhkan bukannya teh, melainkan sinih dan pinang. Atas titah raja, orang Majapahit juga senang mengadakan pertandingan dengan menggunakan tombak barnbu. Tetapi, apabila ada yang meninggal karena tertusuk tombak bambu itu, si pemenang wajib memberikan uang kepada keluar korban. Namun, kalau bulan terang terutama purnama, mereka senang bermain bersama dengan disertai nyanyian bergiliran antara kelompok-kelompok laki-laki dan perempuan. Kesenian yang populer adalah bentuk cerita Wayang Beber, yaitu kisah wayang yang dilukiskan pada kai1i yang direntangkan (beber) oleh sang dalang dan menceritakan adegan-adegan yang digambarkan tersebut.

Para pedagang pribumi umumnya sangat kaya. Mereka suka membeli bathbatu perhiasan yang bermutu, seperti barang pecah belah dan porselin Cina dengan gambar bunga-bunga berwarna hijau. Mereka juga membeli minyak wangi, kain sutra dan kain yang berkualitas baik dengan motif hiasan ataupun yang polos. Pembayaran dilakukan dengan uang tembaga Cina dan dinasti apapun laku di Kerajaan Majapahit.

Bangunan suci darmma haji berjumlah 27. Bangunan ini bertujuan untuk memuliakan para kerabat raja yang telah meninggal. Selain itu, leluhur raja dipuja dan dimuliakan setara dewata di bangunan-bangunan tersebut. Salah satu tempat pen-dharma-an dibangun dalam masa Rajasanagara adalah Prajnaparamita-pun yang dihabiskan untuk memuliakan tokoh Rajapatni, nenek Hayam Wuruk. Nagarakrtagama menguraikan sebagai berikut:
  1. prajaparimitapuri ywa panlahnin rat/ri sanghyang sudarmma, prajnaparamitakriyenu lahaken/sri jnanawidyapratistasotan/pandita wrdda tantragata labdawesa sarwwagamajna, saksat/hyang mpu bharada mawak I sirande trpti ki twas narendra.
  2. mwang taiki ri bhayalango ngganira sang sri rajapatning dinarmma, rahyang jnanawidinutus/muwah amuja bhumi sudda pratistaetunyan mangaran/wisesapura kharam-bhanya pinrih ginong twasmantrya-gong winkas/wruherika dmung bhoja nwam utsaha wijna.
  3. lumra sthananiran pinuja winangunlcaityadi ring sarwwadesa, jawat/waisapuri pakuwwana kebhaktyan/sri maharajapatni, angken. bhadra siran pinujaniñg amatya brahma sakwehnya bhakti, mukti swarg-ganiran)mapotraka wisesang yawabhumyekhanatha.


Terjemahannya:

  1. Bangunan suci Prajnaparamita merupakan permata dunia, adalah suatu kesempurnaan dharmma yang keramat, upacara bagi pentahbisan arca Prajnaparamita diselenggarakan (oleh pendeta) agung Jnanawidya, merupakan pendeta sepuh (aliran) Tantragata yang telah menerima ilham dan memahami berbagai ilmu agama, sunguh bagaikan Mpu Barada yang menjelma pada dirinya, membawa kebahagiaan bagi Narendra (Raja Hayam Wuruk).
  2. Kemudian lagi sekarang di Bhayalango tempat bagi Sri Rajapatni didarmakan (dimuliakan), tokoh suci Jnanawidhi dititahkan untuk (mengadakan), tokoh suci Jnana widhi dititahkan untuk (mengadakan upacara) pengkudusan lahan (dan) pengeramatan arca, sebab itulah diseru (dengan) nama Wisesapura, dipelihara secara baik sehingga menjadi tempat mulia, banyak menteri (pejabat tinggi) bersegera mengunjunginya, (termasuk) Demung, Bhoja, remaja dan kaum cendikia.
  3. tempat (itu) sangat terkenal sebagai pemujaan, dibangun pula caitya (sumbangan) dan berbagai daerah, (di sekitar) banyak perumahan kaum Waisya, (mereka ji-iga melakukan) kebaktian bagi Sri Rajapatni, tiap bulan Bhadra (Agustus-September) dia (Rajapatni) dipuja oleh para pengiring raja dengan mantra suci, mengadakan sembah bakti, pembebasan (untuk) masuk surga baginya, (dan) dia (Rajapatni) beranak cucu raja-raja terkenal di tanah Jawa”.

Bangunan candi pen-dharma-an lainnya yang diuraikan dalam Nagarakrtagama adalah Simping atau reruntuhan Candi Sumberjati yang terletak di wilayah Blitar dekat dengan aliran Sungai Brantas. Candi tersebut merupakan bangunan suci untuk memuliakan kakek Rajasanagara, yaitu Krtarajasa Jayawarddhana atau Raden Wijaya. Dalam Nagarakrtagama pupuh 47 disebutkan bahwa Simping adalah salah satu bangunan pen-dharma-an Krtarajasa (Raden Wijaya).

Adapun pen-dharma-an lainnya terletak di bagian dalam istana Majapahit,
“rin saka matryawuna linaniran narendra, drak pinratista jinawimbha siren puri jro, antahpura ywa panlah rikanan sudarmma, saiwapratista sira teki muwah ri simping” (Nag. 47:3).

(“Pada tahun 1231 Saka, wafatlah sang raja (Krtarajasa Jayawarddhana), lalu dirinya diarcakan dalam wujud Jina di istana bagian dalam, Antahpura demikian tempat penngatan (baginya) di sana. (merupakan) pen-dharma-an yang indah, (adapun) arca Saiwa baginya di tempatkan di Simping).

Apabila Krtarajasa wafat pada tahun 1231 S (1309 M),bangunan suci di Simping diperkirakan didirikan setelah 12 tahun kematiannya, yaitu tahun 1321 M. Upacara sraddha diadakan dalam tahun itu, yaitu untuk mengantar arwah si mati memasuki alam kedewataan. Upacara itu diakhiri dengan pembangunan candi yang bertujuan untuk memuliakan tokoh yang meninggal. Sementara itu, pupuh 70 kakawin Nagarakrtagama menyatakan:
1. irikang anilastanah saka nrpeswara warnnanen, mahasahas i simping saŋhyaŋ darmma rakwa sirãlihěn, saha widiwiwidänasiŋ lwir/niŋ saji krama tan kuraŋ, prakhasita sang adyaksãmujaryya rãjaparãkrama.
2. rasika nipuneŋ widya tatwopadesa siwãgami sira ta manadistãne saŋ sri nŗpa krtarajasa duwég inulahaken taŋ prasada gopura mekala prakasita sang aryyanama kruŋ prayatna wineh wruha.

Terjemahannya kurang lebih seperti ini:
1. “uraian [tentang kegiatan] raja pada tahun Saka 1285 (1363 M), berkunjung ke Simping [tempat] bangunan suci pen-dharrna-an yang dipindahkan, bermacam persembahan (widi-widana) [dan] berbagai persajian lengkap, tidak ada yang kurang, sang adyaksa yang terkemuka [bernama] Rajapapara— krama [mengadakan] upacära pemujaan yang agung.
2. pemujaan itu mengacu kepada pengetahuan Tatwopadesa dan Siwagama, dialah yang “menyemayamkan” di adistana, sang pangeran Krtarajasa, dengan baik ia membangun prasada (atap yang menjulang tinggi), gapura dan pagar keliling, terkenallah ia dengan nama Aryya Krung, [orang yang] giat, gigih, bersemangat dan serba tahu”.

Pada 1363 M, kemungkinan bangunan pen-dharma-an bagi Raden Wijaya di Simping telah mulai rusak karena telah lama didirikan sejak tahun 1321 M sebelum Rajasanagara naik tahta. Maka, upacara keagamaan yang cukup besar diadakan pada masa pemerintahan Hayam Wuruk. Hal mi dilakukan untuk perbaikan dan pemindahan bangunan suci Simping ke lokasinya yang baru. Upacara ini dihadiri sendiri oleh Hayam Wuruk.

Demikianlah dua bangunan pen-dharma-an yang didirikan dalam masa pemerintahan Hayam Wuruk menurut Nagarakrtagarna. Kedua bangunan itu adalah Prajnaparamitapuri yang sekarang dinamakan Candi Bayalango dan Simping atau Candi Sumberjati sekarang. Rajasanagara sengaja mendedikasikan bangunan-bangunan itu kepada kakek-neneknya yang telah berjasa mendirikan Wilwatika. Raja bahkan datang sendiri ke lokasi di Blitar pada waktu penyempumaan bangunan Simping.

Penduduk Majapahit yang tertib dan sejahtera masa itu tentunya berkat adanya norma dan penegakkan aturan secara baik dan ditaati oleh seluruh rakyat. Hal mi disebabkan telah dikenal adanya kitab hukum dan perundang-undangan yang sangat dihormati dalam masa kejayaan Majapahit. Prasasti Bendasari yang dikeluarkan dalam masa pemerintahan Rajasanagara dan juga prasasti Trowu1an yang berangka tahun 1358 M, artinya dalam masa Rajasanagara juga, disebutkan adanya kitab hukum yang dinamakan Kutaramanawa atau lengkapnya Kutaraman awadharmasastra. Isi kitab tersebut ada yang berkenaan dengan hukum pidana dan perdata.

Isinya antara lain tentang ketentuan denda, delapan macam pembunuhan (astadusta), perihal hamba (kawula), delapan macam pencurian (astacorah), pemaksaan (sahasa), jual beli (adol-atuku), gadai (sanda), utang-piutang (ahutang-apihutang), perkawinan (kawarangan), perbuatan asusila (paradara), warisan (drewe kaliliran), caci-maki (wakparusya), perkelahian (atukaran), masalah tanah (bhumi) dan fitnah (duwilatek). Demikianlah keadaan kitab hukum yang relatif memadai untuk masyarakat Majapahit dalam zaman keemasannya di era Rajasanagara. Nampaknya kitab Kutaramanawa tersebut tidak lagi diikuti secara baik dalam masa pemerintahan raja-raja sesudah Hayam Wuruk karena terdapat intrik keluarga raja-raja hingga keruntuhan Majapahit.

Kitab perundang-undangan tersebut tentunya bertujuan untuk mengatur dengan baik tata masyarakat sehingga dalam masa kejayaan Majapahit tercipta keadaan yang aman dan tentram bagi seluruh rakyatnya. Contoh isi kitab Agama (Kutaramanawadharmasastra) adalah sebagai berikut:

Pasal 87 : “Barang siapa sengaja merampas kerbau atau sapi orang lain dikenakan denda dua laksa. Barang-siapa merampas hamba orang, dendanya dua laksa. Denda itu dipersembahkan kepada raja yang berkuasa. Pendapatan dari kerbau, sapi dan segala apa yang dirampas terutama hamba dikembalikan kepada pemiliknya dua kali lipat”.

Pasal 92 : “Barangsiapa menebang pohon orang lain tanpa seizin perniliknya, dikenakan denda empat kali oleh raja yang berkuasa. Jika hal itu terjadi pada waktu malam, dikenàkan pidana mati oleh raja; pohon yang ditebang dikembalikan dua kali lipat”.

Perlindungan terhadap kaum perempuan juga diatur dengan tegas dalam beberapa bab di kitab tersebut, antara lain:

Pasal 108: “Jika seorang isteri enggan kepada suaminya, karena ia tidak suka kepadanya, uang tukon (mahar) harus dikembalikan dua kali lipat. Perbuatan itu disebut amadal sanggama (menolak bercampur). “Seorang wanita boleh kawin dengan laki-laki lain, jika suaminya hilang, jika suaminya meninggal dalam perjalanan; jika terdengar bahwa suaminya ingin menjadi pendeta; jika suaminya “tidak mampu” dalam percampuran, terutama jika ia menderita penyakit budug. Jika demikian keadaan suaminya, wanita itu boleh kawin dengan orang lain”.

Pasal 207: “Barangsiapa memegang seorang gadis, kemudian gadis itu berteriak menangis, sedangkan banyak orang yang mengetahuinya, buatlah orang-orang itu saksi sebagai tanda bukti. Orang yang memegang itu dikenakanlah pidana mati oleh raja yang berkuasa”.WHD No. 510 Juni 2009.

Pasal-pasal dalam kitab Kutaramanawa tersebut tidak bernapaskan kebudayaan luar (India), melainkan khas Jawa Kuno. Uraian yang terdapat dalam kitab itu ada yang berkenaan dengan hewan-hewan yang biasa dijumpai di Pulau Jawa, misalnya disebutkan adanya hutang piutang kerbau, sapi dan kuda; pencurian ayam, kambing, domba, kerbau, sapi, anjing dan babi; ganti rugi terhadap hewan yang terbunuh karena tidak sengaja dan juga yang banyak mendapat sorotan adalah perihal hutang piutang padi. Walaupun di beberapa bagiannya terdapat konsepkonsep dasar dan kebudayaan India (Hindu-Budha), namun penerapannya lebih ditujukan untuk masyarakat Jawa kuno. Jadi, konsep-konsep tersebut hanya memperkuat uraian saja.

Kitabhukum tersebut sudah pasti disusun dan dihasilkan dalam kondisi masyarakàt yang stabil dan aman. Oleh karena itu, para ahli hukum dapat deñgan tenang berembuk menyusun kitab yang isinya begiturinci dan hampir menjangkau aspek hukurn yang dikenal dalam masanya. Kiranya dapat diasumsikan bahwa kitab hukum Kutaramanawa itu diciptakan dan diundangkan dalam masa pemerintahan Rajasanagara, yaitu suatu kurun waktu dalam sejarah Majapahit yang aman dan sejahtera.
Karya Sastra yang digubah oleh para pujangga agamawan pun berkembang dengan semarak. Beberapa karya sastera penting yang disusun dalam zaman itu adalah Nagarakrtagama, Arjunawijaya dan Sutasoma. Selain itu, terdapat pula karya sastera yang digubah dalam zaman selanjutnya, tetapi masih mengacu kepada kemegahan Majapahit, misalnya Pararaton. Berdasarkan pengamatan terhadap uraian isi serta penggambaran detail yang termaktub di dalamnya, dapat disimpulkan gambaran “dunia” dan “lingkungan” tempat para penggubah karya sastera itu berada. Kesimpulan ini hanya secara garis besar saja, namun mungkin dapat dijadikan pijakan bagi kajian selanjutnya. Secara ringkas “dunia” yang tergambarkan dalam karya sastera yang digubah. dalam zaman kejayaan Majapahit hingga periode menjelang keruntuhannya.

Maka, dapat dinyatakan bahwa sebagian besar para penggubah karya sastera Jawa Kuno berasal dan lingkungan kaum agamawan. Hal ini disebabkan oleh kemahiran tulis menulis, pengetahuan tentang kaidah susastera, ajaran keagaman telah menjadi bagian kehidupan mereka, bahkan meiajadi ciri keprofesionalan mereka yang eksklusif. Dalam masa Jawa kuno terdapat istilah khusus untuk mereka yang bertugas dalam bidang keagamaan, yaitu wiku. Mereka ada yang mempunyai hubungan akrab dengan istana, bahkan dalam menggubah kakawinnya, raja yang bersemayam di istana itu justru menjadi penaja yang melindungi serta merestui pekerjaan para wik’u yang bertindak sebagai kawi (penggubah kakawin). Dalam hal ini misalnya yang terjadi antara Mpu Prapanca dngan Rajasanagara (Hayam Wuruk) ketika sang mpu menggubah Nagarakrtagama dan juga antara Mpu Tanakung yang menggubah Siwaratri-kalpa dengan Raja Sri Adi Surprabhawa atau Sri Singhawikramawarddhana Dyah Suraprabhawa atau Bhre Pandan Salas yang memerintah di Majapahit antara tahun 1466 - 1474 M.

Berdasarkan data yang ada dapat pula diketahui bahwa terdapat para pujangga yang mandiri, tinggal di luar keraton dan tidak ada hubungan dengañ raja dan kehidupan keraton. Mereka juga menghasilkan sejumlah karya sastera. Isi karyanya mengungkapkan dunia berbeda dengan para pujangga yang akrab dengan kehidupan istana. Dalam hal ini dunia yang terungkap lewat karya sasteranya adalah kehidupan keagamaan di lingkungan mandala (pendidikan agama). Karya sastera yang mungkin dihasilkan di lingkungan mandala adalah Tantu Pagelaran, Korawasrama dan Bhimaswarga. Selain itu, terdapat pula kehidupan pertapaan individu di pedesaan yang jauh dan keramaian. Para pertapa individual tersebut dapat dihubungkan dengan karya sastera jenis tertentu, misalnya Bhubhuksah-Gagangaking dan Nirarthaprakerta.

Kajian karya sastera masa Majapahit pun sebenarya dapat dibantu dengan penyelidikan terhadap penggambaran relief di candi-candi. Beberapa karya sastera Jawa Kuno ada yang dipahatkan dalam bentuk relief di dinding candi. Tujuan pemahatan karya sastera dalam bentuk relief tersebut antara lain adalah:
  1. Untuk memperindah bangunan candi karena dihias dengan ornamen relief yang menggambarkan cerita dengan berbagai bentuk ornamen yang rinci dan indah.
  2. Lebih memudahkan memahami suatu cerita. Para pengunjung candi/bangunan suci di masa silam akan lebih menikmati adegan dalam gambar-gambar pahatan relief.
  3. Menyebarluaskan dan mempopulerkan cerita-cerita yang mengandung ajaran tertentu. Cerita dalam bentuk naskah sudah tentu sangat terbatas bahkan mungkin hanya satu sehingga tidak dapat dibaca secara leluasa oleh masyarakat. Hal yang perlu diingat pula adalah orang yang mampu membaca aksara pada masa itu mungkin hanya terbatas di kalangan kaum agamawan dan sedikit elite penguasa saja. Dengan dipahatkannya suatu relief cerita yang mengacu kepada karya sastera tertentu, diharapkan akan banyak pula orang yang kemudian mengenal cenita yang dimaksudkan.
Beberapa candi masa Majapahit yang dihias dengan karya sastera misalnya:
  1. Candi induk Penataran dihias fragmen relief cerita Krsnayana dan Ramayana.
  2. Pendopo teras II di percandian Panataran dihias dengan rèlif cerita Bhubuksah-Gagang Aking, Sang Satyawan dan sälah satu versi kisah Panji yang belum dapat dikenali.
  3. Candi Jago dihias dengan fragmen relief cerita Tantri Kamandaka, Kunjarakarna, Parthayajna, Arjünawiwaha dan Krsnayana.
  4. Candi Surawanadihias dengan relief cerita Arjunauliwaha, Bhubuksah Gagangaking, Sri Tanjung, Panji dan adegan keseharian yang mungkin rnengandung kisah tertentu, tetapi belum dapat diidentifikasikan.
  5. Candi Tegawangi dihias dengan relief cerita Sudhamala.
Selain itu, terdapat pula adegan relief yang belum dapat diketahui acuan ceritanya, misalnyanya yang dipahatkan di kaki Candi Jawi, di kaki Candi Ngrimbi, Candi Miri Gambar, Candi Gajah (Kepurbakalaan XXII) dan Candi Kendalisasa (Kepurbakalaan LXV) di lereng barat Gunung Penanggungan. Maka, untuk dapat mengungkapkan acuan cerita apa yang dipahatkan di candi-candi tersebut, sudah tentu kajian terhadap karya sastera sezaman perlu diperluas lagi.

Epilog: Hayam Wuruk Tokoh Utama di Pentas Kerajaan
  1. Untuk memperindah bangunan candi karena dihias dengan ornamen relief yang menggambarkan cerita dengan berbagai bentuk ornamen yang rinci dan indah.
  2. Lebih memudahkan memahami suatu cerita. Para pengunjung candi/bangunan suci di masa silam akan lebih menikmati adegan dalam gambar-gambar pahatan relief.
  3. Menyebarluaskan dan mempopulerkan cerita-cerita yang mengandung ajaran tertentu. Cerita dalam bentuk naskah sudah tentu sangat terbatas bahkan mungkin hanya satu sehingga tidak dapat dibaca secara leluasa oleh masyarakat. Hal yang perlu diingat pula adalah orang yang mampu membaca aksara pada masa itu mungkin hanya terbatas di kalangan kaum agamawan dan sedikit elite penguasa saja. Dengan dipahatkannya suatu relief cerita yang mengacu kepada karya sastera tertentu, diharapkan akan banyak pula orang yang kemudian mengenal cenita yang dimaksudkan.
Beberapa candi masa Majapahit yang dihIas dengan karya sastera misalnya:
  1. Candi Induk Penataran dihias fragmen relief cerita Krsnayana dan Ramayana.
  2. Pendopo teras II di percandian Panataran dihias dengan rèlif cerita Bhubuksah-Gagang Aking, Sang Satyawan dan sälah satu versi kisah Panji yang belum dapat dikenali.
  3. Candi Jago dihias dengan fragmen relief cerita Tantri Kamandaka, Kunjarakarna, Parthayajna, Arjünawiwaha dan Krsnayana.
  4. Candi Surawanadihias dengan relief cerita Arjunauliwaha, Bhubuksah Gagangaking, Sri Tanjung, Panji dan adegan keseharian yang mungkin rnengandung kisah tertentu, tetapi belum dapat diidentifikasikan.
  5. Candi Tegawangi dihias dengan relief cerita Sudhamala.
Selain itu, terdapat pula adegan relief yang belum dapat diketahui acuan ceritanya, misalnyanya yang dipahatkan di kaki Candi Jawi, di kaki Candi Ngrimbi, Candi Miri Gambar, Candi Gajah (Kepurbakalaan XXII) dan Candi Kendalisasa (Kepurbakalaan LXV) di lereng barat Gunung Penanggungan. Maka, untuk dapat mengungkapkan acuan cerita apa yang dipahatkan di candi-candi tersebut, sudah tentu kajian terhadap karya sastera sezaman perlu diperluas lagi.

Epilog: Hayam Wuruk Tôkoh Utama di Pentas Kerajaan
Kejayaan Majapahit sebenamya tidak terlepas dan penguasa yang sedang memerintah tuasa itu, yaitu Hayam Wuruk atau Rajasanagara. Sebenamya Hayam Wuruk menikmati hasil jerih payah para penguasa pendahulunya yang diawali dengan pemerintahan pendiri Majapahit, yaitu Krtarajasa Jayawarddhana, disusul oleh Jayanagara atau Uri Wiralandagopala Sri Wiralandagopala Sri Sundarapandyadewadiswara atau disebut pula Sri Sundarapandyadewanama Maharaja-bhiseka Sri Wisnuwangsa dan Ratu Tribhuwanottunggadewi Jayawisnuwardhhani, ibunda Hayam Wuruk, Hayam Wuruk tinggal meneruskan tapak-tapak awal pendakian menuju kejayaan Majapahit sehingga berhasil berada di puncak kemegahan kerajaan tersebut.

Hayam Wuruk tidak akan berhasiljika tidak mampu memerintah dan menjadikan dirinya sebagai raja yang menjadi pusat perhatian dan tumpuan pemujaan seluruh rakyat Majapahit. Hayam Wuruk adalah seorang raja yang piawai dalam pemerintahan. Hal ini terlihat saat Gajah Mada tidak lagi menduduki jabatannya, ia segera mengundang Pithom Nàrendra untuk merundingkan siapa pengganti mahapatih Majapahit tersebut. Meskipun kedudukan Gajah Mada tidak dapat tergantikan oleh seorang tokoh, tugasnya kemudian dibagi-bagikan pada beberapa pejabat. Majapahit dengan Hayam Wuruk masih tetap berdiri hingga tahun 1389 M.

Menurut uraian Nagarakrtagama pupuh 85-91, setiap tahun di istana diadakan: acara pertemuan besar (paseban). Pada waktu itu, seluruh pembesar kerajaan hadir, begitupun para pemimpin negara daerah di Jawa mempersembahkan upeti. Pasar penuh sesak dengan para pengunjung, aneka barang, penganan, kain dan hasil bumi dijajakan. Keraton dihias indah, begitupun bale panangkilan dan witana di wanguntur dihias dengan semarak. Gamelan dimainkan tiada putus-putusnya berbunyi mengiringi upacara di bangunan-bangunan suci dekat istana. Para pendeta Siwa Budha dan kaum Rsi rnembacakan kitab-kitab suci dan mantra untuk keselamatan baginda.

Acara berikutnya adalah arak-arakan mengelilingi kota. Hayam Wuruk tampil dalam kereta indah yang ditarik lembu berhias dan berbusana warna keemasan dengan mahkota kencana. Para pejabat tinggi kerajaan dan para pendeta yang membacakan sloka berjalan mengikutinya. Rombongan para penguasa negara daerah menyusul beserta permaisurinya dari Pajang, Lasem, Paguhan dan lain-lain. Mereka menaiki kereta diiringi para pejabat dan pengiringnya yang berbeda-beda pekaiannya.

Acara paseban agung dilaksanakan di istana. Acara itu dihadiri oleh para pembesar, mantri, ksatrya, aryya, kepala desa, tamu-tamu dan Nusantara serta para pendeta dan brahmana, pertemuan membicarakan upaya mengenyahkan kemiskinan, kebodohan, kejahatan serta meningkatkan kesejahteraan dan keagungan negara. Selain itu, kitab-kitab peraturan agama dan pemerintahan juga dibacakan.

Dua hari kemudian diadakan perayaan besar di tanah lapang Bubat. Raja berkunjung pula dengan tandu yang dihias disudut-sudutnya dengan bentuk singa diarak dan diiringi para pembesar yang dikagurni rakyat kerajaan. Raja bersemayam di tepi timur lapangan dalarn bangunan besar beratap tumpang menjulang tinggi, di dekatnya terdapat wesma mirip istana yang tiang-tiangnya diukir relief cerita parwa-parwa. Di tepian lainnya, Bubat didirikan panggung-panggung berbeda ukurannya bagi para pembesar yang mau menonton berbagai pertunjukan dan pertandingan. Para pemenangnya akan dijamu oleh baginda raja. Acara setiap hari ditutup dengan menyantap hidangan bersama sambil menyaksikan pertunjukan kesenian.

Perjalanan-perjalanan Rajasanagara ke berbagai daerah juga membawa dampak positif pada din raja. Ia dapat mengetahui keadaan wilayah kekuasaannya di Jawa bagian timur hingga ke pedalamannya. selain itu, rakyat di pedalaman dapat mengetahui kemegahan rombongan raja, pasukan pengiring raja dan wajah rajanya sendiri yang bagaikan dewata menjelma ke dunia. Perhatikan urajan Nagarakrtagama tentang salah situ episode perjalanan Hayam Wuruk ketika pulang dan keliling wilayah Lumajang dalam tahun 1359 M.

Naragakrtagama menyatakan:
“tuhun i dhatong nire pasuruhan manimpang angidul ri kapanangan, anuluy atut dhamargga madulur tikang ratha dhateng ring andoh wawang, muwah i kedhu peluk lawan i hambal antya nikang pradesenitung, jhathiti ri sanghasaripura rajadharma dinunung narendramgil” (Nag. 3: 1).

(Sampai di Pasuruhan, ia membelok ke selatan menuju Kapanyangan, kemudian mengikuti jalanraya, rombogan bersama-sama tiba di Andoh Wawang, serta Kedhung Peluk dan Hambal, desa terakhir yang dicatat, raja langsung menuju tempat tinggalnya di Istana Singhasari) (Sidomulyo, 2007:75).

Rombongan raja tidak langsung menuju Majapahit, tetapi menyimpang dulu ke selatan melalui beberapa desa dan menuju Singhasari, yaitu bekas kerajaan pendahulu Majapahit di mana para leluhur Rajasanagara pernah berkuasa. Kunjungan tersebut merupakan ziarah untuk mendatangi beberapa candi pen-dharma-an raja-raja Singahasari. Uraian selanjutnya menyatakan:

“warnnan muwah lari nareswarenjing umareŋ sudarmma ri kidal sampun manãmya ri bhatara lingsir anuluy/dataŋ ri jajaghu, sampun muwah mark i saŋhyang arcca jinawimbha sonten amgil, eñjiŋ maluy/musir i singhasari tan alh marãryyam i burŋ”.

(.... pada pagi berikut ia berkunjung ke dharma di Kidhal, dan setelah memberi sembahan melanjutkan perjalanan ke Jajaghu, menghadap kepada arca Budha, kemudian bermalam di sana. Pada pagi hari ia kembali ke Singhãsãri, tetapi terlebih dahulu berhenti di Buréng”) (Sidomulyo, 2007:80).

Uraian perjalanan tersebut diperinci lagi oleh Mpu Prapanca dalam Nagarakrtagamanya. Banyak desa dan kota (nagara) yang dikunjungi dan dilalui oleh Hayam Wuruk beserta rombongannya. Selain itu, banyak pula bangunan suci, candi pendarmmaan dan pertapaan yang didatangi oleh Rajasanagara. Seluruh rakyat Majapahit mengelu-elukan sepanjang jalan yang dilalui oleh rombongan. Kegiatan lain yang juga dilakukan oleh Rajasanagara dan kaum kerabatnya adalah berburu. Uraian tentang perburuan terdapat dalam Nagarakrtagama pupuh 50-55. Disebutkan bahwa binatang-binatang pun rela untuk dibunuh oleh sang raja karena ia adalah titisan Siwa. Jadi, mati di tangan raja lebih mulia daripada terjun ke telaga, demikian ungkap Nagarakrtagama.

Demikianlah banyak hal yang membuat Majapahit menjadi jaya dalam masa pemerintahan Hayam Wuruk. Beberapa hal penting yang dapat diamati melalui kajian sumber-sumber sejarah dan bukti arkeologis dan masa itu adalah sebagai berikut:
1. Adanya sistem pemerintahan yang efektif.
2. Adanya keajegaii (kestabilan) pemerintahan.
3. Berlangsungnya kehidupan keagamaan yang baik.
4. Terselenggaranya upacara kemegahan di istana.
5. Tumbuh kembangnya berbagai bentuk kesenian.
6. Hidupnya perniagaan Nusantara dengan Jawa (Majapahit).
7. Pelaksanaan politik Majapahit terhadap Nusantara.
8. Adanya pengakuan internasional dan negara-negara lain di Asia Tenggara.

Apabila digambarkan dalarn bagan, maka kedelapan butir pendukung kejayaan Majapahit tersebut tergambar sebagai berikut:

Image


Kedelapan butir pendukung berada di sudut-sudut kaki limas segi delapan. Semua butir itu memproyeksikan dirinya ke puncak linias menjadi Kejayaan Majapahit Raya. Tepat di tengah di bagian dasar limas adalah tokoh Rajasanagara yang menjaga semua butir pendukung kejayaan.Akan tetapi, ada satu tokoh. yang tidak mungkin dilupakan, yaitu Gajah Mada. Tokoh ini pertama kali tampil di Majapahit dalam masa pcmerintahan Jayanagara sebagai bhayangkara (pasukan pengawal raja). Ia menjadi patih Daha mendampingi Hayam Wuruk muda dalam zaman Ratu Tribhuwanottunggadewi. Selanjutnya, dia menjadi mahapatih arnangkubhumi Majapahit menggantikan Aryâ Tadah. Dalam pengabdian kepada ibunda Hayam Wuruk itulah ia mengucapkn Sumpah Palapanya yang terkenal. Ia tetap menjadi mahapatih amangkubhumi Mjapahit dalam masa pemerintahan Hayam Wuruk. Ia meñyaksikan kejayaan Majapahit dan upaya mempersatukan Nusantara yang ditekadkannya telah menjadi kenyataan. Path akhirnya, sebagaimana asal-usulnya yang samar-samar, maka akhir riwayat Gajah Mada pun tetap samar-samar belum ada kepastian karena berbagai. sumber sejarah menyebutkan masa akhir kehidupan Gajah Mada berbeda-beda.

Apabila berita Nagarakrtagama dapat diterima, kemungkinan Gajah Mada meninggal secara wajar karena sakit. Hal itu diuraikan oleh Mpu Prapanca dalam pupuh 70:3 yang menyatakan bahwa Hayam Wuruk segera pulang dan Simping menuju istananya setelah mendengar bahwa sang mantryadimantra Gajahmada sakit. Ia sangat berjasa dalam menyejahterakan dan memajukan Jawa. Ia dihormati dan dikenal karena telah berhasil dengan baik membinasakan musuh-musuh, baik di Bali ataupun di Sadeng. Gajah Masa mangkat dalam tahun 1364 M. Nagarakrtagama berhasil diselesaikan oleh Mpu Prapanca setahun kemudian.

Peranan dan sepak terjang Gajah Mada untuk memajukan Majapahit memang séngaja tidak ungkapkan dalam kajian ini. Hal ini memang diperlukan telaah khusus untuk mengungkapkan dan memahami lebth dalarn tampilnya tokoh tersebut dalam sejarah Majapahit. Pada kenyataannya Gajah Mada lebih banyak dikenal dan dikenang oleh masyarakat di berbagai wilayah Nusantara daripada Rajasanagara. Hal itu rnenunjukkan bahwa peranan Gajah Mada dalam masa kejayaan Majapahit tidak perlu diragukan lagi. Sementara itu, Hayam Wuruk masih belum banyak dibahas dan diperbincangkan perihal aktivitas dan peranannya sebagai raja besar di Majapahit.

1.2 Pertemuan Antara Dunia Manusia Dan Alam Kedewátaan : Bangunan Suci, Arca dan Relief Candi Masa Singhasari-Majapahit

Kerajaan Majapahit yang berkembang antara abad ke-14-awal ke-16 M merupakan penerus Kerajaan Singhasari yang berkembang dalam masa sebelumnya (abad ke-13 M). Raja-raja Singhasari dan Majapahit berpangkal pada tokoh Ken Angrok yang nama penobatannya ialah Sri Ranggah Rajasa Bhattara sang Amurwwabhumi. Oleh karena itu, tokoh Ken Angrok dapat dinyatakan sebagai vamsakrta (pendiri dinasti). Dinasti yang dikembangkannya adalah wangsa Rajasa (Rajasavamsa). Penamaan dinasti Rajasa tersebut diungkapkan dalam uraian prasasti raja-raja Majapahit yang merupakan anak keturunan Ken Angrok.

Selain itu, dalam hal kebudayaan pun sangat mungkin telah terjadi kesinambungan pencapaian kebudayaan yang telah dikembangkan dalam era Singhasari dan terus dilanjutkan pada masa Majapahit. Namun, tidak tertutup kemungkinan juga bahwa dalam zaman Majapahit terdapat pencapaian-pencapaian baru yang bukan bersifat meneruskan tradisi Singhasari, tetapi bersifat melengkapinya. Salah satu unsur kebudayaan penting yang sebenarnya mendasari perkembangan unsur-unsur kebudayaan lainnya adalah religi. Kehidupan religi pada masa Singhasari mulai muncul gejala baru yang terus dikenal dalam periode Majapahit, yaitu konsep dewaraja. Hakikat konsep tersebut sebenarnya mengajarkan bahwa raja yang telah meninggal dianggap bersatu dengan dewa pribadi sesembahannya (ista-dewata). Raja sebenarnya adalah dewa itu sendiri yang menjelma pada diri seorang manusia yang berkedudukan sebagai raja. Maka, ajaran ini mengenal adanya pertemuan antara (dunia) manusia dan (dunia) dewa-dewa. Kedua dunia itu menyatu dalam diri seorang raja yang sedang berkuasa, atau dalam diri seseorang tokoh kerabat raja yang dekat dengan dunia istana.

Sejauh data yang dapat dipelajari hingga kini, konsep pemujaan dewaraja baru berkembang dalam zaman Kerajaan Singhasari yang dikaitkan dengan keberadaan Dinasti Rajasa. Dalam masa sebelumnya, yaitu periode pemerintahan Kerajaan Kediri (abad ke—12 M) atau lebih mundur lagi dalam masa pemerintahan Dharmmawangsa Airlangga (1019 – 1041 M) dan Dharmmawangsa Teguh (991 M - 1016 M), ritus pemujaan dewaraja tersebut belum meninggalkan bukti secara nyata. Apabila lebih mundur lagi dalm masa perkembangan kerajaarl di w.ilayah Jawa bagian tengah (Klasik Tua) antara abad ke-8 → 10 M, bukti-bukti kehadiran konsep dewaraja sukar untuk dilacak kembali, mungkin sudah ada atau mungkin belum dikenal. Maka, kemungkinan kedualah yang terjadi dalam masa Klasik Tua. Hal ini terlihat dan kegiatan keagamaan yang langsung memuja dewa masih terlihat nyata pada peningkatan arkeologisnya. Candi-candi dibangun dengan tujuan untuk memuja dewa, baik yang bersifat saiva ataupun bauddha Candi-candi tidak diasosiasikan dengan tokoh tertentu, tetapi masih ditujukan bagi peribadatan kepada dewa-dewa.

Sejalan dengan berkembangnya konsep pemujaan dewaraja, maka diperlukan pula peralatan ritus yang juga berbeda dengan masa sebelumnya. Peralatan tersébut tentirnya ditujukan untuk mendukung ajaran dewaraja yang sedang dikembangkan. Dalam kajian ini peralatan ritus yang dimaksud adalah bangunan suci, arca-arca serta penggambaran relief yang dipahatkan di dinding candi-candi atau bangunan suci lainnya. Selain itu, artefak-artefak masih mungkin untuk dijadikan data karena masih bertahan hingga sekarang. Tentunya di masa lalu banyak artefak lain yang berupa benda bergerak (maveable artifact) dalam rangkaian ritus pemujaan dewaraja. Namun, artefak-artefak sangat mungkin terbuat dan logam yang sukar ditemukan, jumlahnya sangat terbatas, rusak dan tidak diketahui lagi keberadaannya.

Selanjutnya, telaah yang dilakukan berupa untuk mengungkapkan berbagai bukti artefaktual yang berkaitan dengan pertemuan antara dunia manusia dengan dunia kedewataan, dan era Singhasani dan Majapahit. Sudah barang tentu kajian ini hanya bersandarkar pada data yang dapat diketahui dan dapat diacu saja, akibatnya mungkin dalam melakukan interpretasipun hanya dilakukan sejauh data yang ada. Interpretasi tidak mungkin dapat dilakukan tanpa dukungan data, apabila dilakukan juga maka sifatnya hanya dalam bentuk asumsi awal yang mudah untuk digantikan dengan kesimpulan baru dalam penelitian lain di masa mendatang.

Konsep pertemuan antara dunia manusia dan kedewataan yang paling penting sebenarnya tercermin pada bentuk bangunan suci dalam masa Singhasari-Majapahit itu sendiri. Bangunan suci yang berbentuk candi dapat dianggap melambangkan tiga lapisan dunia kehidupan (triloka). Pertama, bagian dasar (lapik dan kaki candi) melambangkan dunia manusia yang masih terikat pada hawa nafsu keduniawian, tempatnya salah dan dosa-dosa terjadi, dinamakan dunia bhurloka. Kedua, bagian tubuh candi melambangkan dunia manusia yang telah lepas dari nafsu dan keterikatannya pada duniawi disebut bhuwarloka. Ketiga, atap bangunan melambangkan dunia kedewataan yang dinamakan dengan lapisan swarloka. Pembagian tersebut agaknya setara dengan konsep tridhatu yang dikenal pada bangunan suci bauddha, yaitu kamadhatu dilambangkan pada kaki candi, rupadhatu dilambangkan pada tubuh, dan arupadhatu dilambangkan atap pada bangunan candi Budha. Dengan demikian, dalam bangunan candi terdapat symbol-simbol yang mengacu kepada kehidupan manusia pada umumnya dan alam kehidupan para pendeta yang telah menarik diri dari dunia ramai serta lingkungan kehidupan para dewa.

Pada waktu diadakan upacara keagamaan, tentunya masyarakat datang berbondong-bondong melakukan ritus. Candi dan lingkungannya dipandang sakral karena saat itu dewa-dewa dianggap sedang bersemayam di bangunan suci tersebut. Arca-arca dewa dipandang telah “diisi” oleh prana dewa-dewa dan tentu saja menjadi sangat keramat. Hal sepenti itu mempunyai kesejajaran yang cukup nyata pada waktu persembahyangan hari raya odalan di pura Bali. pada hari itu dewa utama pura dianggap hadir dalam pratima yang merupakan representasi wujud kasarnya. Umát Hindu-Bali mengadakan upacara pemujaan terhadap-Nya setelah upacara usai dewa kembali ke persemayamannya dan pratima disimpan dalam pura yang kembali sunyi.

Sebagaimana yang terjadi dalam upacara odalan di pura, maka dapat ditafsirkan bahwa masyarakat Jawa kuno yang melakukan pemujaan di candi-candi masa lalu, sebenarnya juga melakukan interaksi langsung dengan dewata. Mereka dapat mengungkapkan segala keinginannya, kepada dewata yang pada hari istimewa tersebut hadir di tengah-tengah mereka melalui sarana bangunan candi atau pura. Dengan demikian, candi dapat dianggap sebagai monumen keagamaan yang mempertemukan dunia manusia dan dunia dewa-dewa. Dalam hal ini pagar keliling candi atau pura (penyengker) dan area sakral (dalam lingkungan pagar).

Dalam hal wujud bangunan candi sendiri, jika diamati secara cermat akan terlihat adanya pembagian tataran manusia dan tataran dewata. Bagian bhurloka yang dipresentasikan di kaki bangunan akan diungkapkan dalam bentuk kaki candi yang umumnya polos tanpa hiasan relief. Apabila terdapat hiasan, maka yang ada adalah susunan perbingkaian saja. Pada beberapa candi memang terdapat relief cerita yang temanya sesuai dengan upaya manusia untuk bertemu dengan dewata. Hal ini akan diperbincangkan dalam pemaparan selanjutnya dalam kajian ini.

Beberapa candi zaman Singhasari - Majapahit yang berkaki candi polos tanpa hiasan relief cerita (kecuali relief hias) dan hanya dilengkapi dengan panil kosong atau susunan perbingkaian saja adalah candi:
1. Sawentara di Blitar
2. Sanggrahan di Tulungagung
3. Kali Cilik di Blitar
4. Bangkal di Blitar
5. Jabung di probolinggo
6. Kesiman Tengah di Mojokerto
7. Candi pan di Sidoarjo
8. Candi Gunung Gansir di Pasuruan
Hal yang menarik terdapat di Candi Singhasari (Malang) yaitu bagian yang terlihat seperti kaki candi dengan deretan panil-panil relief kosong di bagian paling bawah bangunan bangunan ini adalah lapik (alas) dan kaki candi. Lapik tersebut bersama-sama kaki candi melambangkan juga dunia manusia (bhurloka) karena terletak di segmen bawah dari bangunan candi. Adapun candi yang bagian kakinya dihias dengan perbingkaian dan relief cerita antara lain adalah candi:
1. Jawi di Pasuruan
2. Jago di Malang
3. Ngrimbi di wilayah Jombang
4. Miri gambar di Tulungagung
5. Kedaton di pedalaman selatan Probolinggo.
Candi Tegawangi dan candi Surawan yang ada sekarang, hanya menyisakan batur tinggi dan dapat dianggap sebagai bagian kaki candi, namun dapat pula dipandang sebagai tubuh candi. Hal itu terjadi karena batas antara kaki candi dan tubuhnya pada kedua bangunan kuno itu agak sukar untuk diidentifikasikan.

Candi-candi yang bahan tubuhnya terbuat dan bata atau batu akan membentuk bilik candi. pada bagian tubuh candi yang melambangkan dunia bhuwarloka terdapat relung-relung tempat menempatkan arca, selain bilik candinya untuk menyimpan arca, selain bilik candinya untuk menyimpan arca utamanya. namun hampir semua candi masa Singhasari dan Majapahit, arca-arca pengisi relung dan juga arca utamanya telah hilang. Candi Sawentar semua arcanya telah tiada, tetapi di biliknya terdapat alas arca yang bagian sisi depannya dihias dengan pahatan burung Garuda. Di Candi Kidal konon dulu terdapat arca Siwa mahadewa yang tingginya 1,23 m. Arca ini sangat mungkin merupakan perwujudan Anusapati yang sesuai dengan istadewatanya, yaitu sebagai Siwa mahadewa. Arca Siwa dan Candi Kidal sekarang disimpan di Royal Tropical Institute, Amsterdam (Kempers, 1959; 73- 74 plate 216-217).

Di Candi Jawi, semua relung di tubuh bangunan telah kosong, tetapi di biliknya terdapat yoni. Begitupun di Candi Kali Cilik, Bangkal dan Jabung semua relung dan bilik candinya telah kosong tidak berisikan arca apapun. Sementara itu, di puncak Candi Tegawangi, Surawana dan Sanggrahan tidak ditemukan arca lain. Akan tetapi, di puncak Candi Tegawangi hingga sekarang masih terdapat yoni yang ceratnya dibentuk naturalis.

Maka, dapat dikemukakan bahwa tubuh candi yang melambangkan dunia bhuwarloka ditandai dengan wujud arca-arca itu sekarang telah hilang. Arca-arca dewa melambangkan makhluk suci yang sebenarnya telah lepas dari segala nafsu dunia, namun kadang-kadang dapat tampil di hadapan para pemujanya, sifatnya sakala-niskala (antara ada dan tiada). Pada waktu diadakan upacara persembahyangan di candi arca dewa-dewa tersebut dianggap keramat. Dewa-dewa hadir di tubuh arca waktu itu. Jadi sifatnya sakala, tetapi apabila selesai upacara arca-arca itu menjadi hampa. Prana dewa kembali ke alamnya yang niskala.

Bagian swarloka pada bangunan candi dilambangkan pada bentuk atap tunggal batu/bata atau atap dari bahan mudah lapuk yang bentuknya bertingkat-tingkat. Bangunan candi masa Singhasari mempunyai bentuk atap yang meninggi ke puncak, lazim dinamakan dengan atap prasadha (menara). Ada pula candi yang didirikan dalam zaman majapahit yang juga mempunyai atap prasadha. Candi masa Singhasari dengan atap menjulang seperti menara yang masih ada, yaitu Candi Sawetar, Kidal dan Jawi. Adapun candi masa Majapahit yang dulu beratap prasadha adalah Candi Angka Tahun Panataran, Ngetos, kali Cilik dan Bangkal.

Atap berbentuk demikian sebenarnya terdiri dari beberapa tingkatan, namun berangsur-angsur mengecil hingga puncaknya yang dimahkotai dengan bentuk kubus. Simbol-simbol dunia swarloka dapat terlihat pada bentuknya yang menjulang tinggi ke langit, seakan-akan merupakan tangga menuju Suralaya. Selain itu, di bagian langit-langit atap terdapat batu sungkup yang pada sisi bawahnya (bagian yang dapat dilihat dan ruang bilik candi jika seseorang menengadah ke atas) tedapat bentuk lingkaran dengan bentuk garis-garis di sekitarnya, atau lingkaran tersebut merupakan bentuk tengah dan bunga padma mekar yang di sekitarnya terdapat kelopak-kelopak daun bunganya. Pada beberapa candi seperti di candi Sawetar dan Bangkal di tengah lingkaran yang digambarkan bersinar tersebut terdapat relief seorang ksatrya menaiki kuda membawa pedang Hal ini menandakan pastinya simbol konsepsi keagamaan tertentu.

Hal yang sungguh menarik perhatian adalah pada bagian atap tersebut terdapat ruang kosong yang bagian dasamya adalah bath sungkup. Dengan demikian, batu sungkup tersebut menjelma menjadi pembatas antara ruang bilik candi dan ruang di atap candi. Menurut R. Soekmono dalam disertasinya Candi Fungsi dan pengertiannya (1974) dinyatakan “Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa rongga dalam tiap candi itu adalah ruangan yang sengaja disediakan bagi Sang Dewa, yaitu sebgai tern pat bersemayamnya pada saat-saat sebelum ia merasuk menjiwai arca perwujudan yang bertakhta di bawahnya” (1974:31).[WHD No.517 Januari 2010].

Rumah Majapahit

Selama ini hampir semua penelitian dan wacana mengenai bangunan-bangunan di situs Trowulan berkenaan dengan tata-kota, candi, gapura, arca, sistem kanal, kolam, saluran air dan goronggoron. Temboktembok besar dan bata dan bangunan bata yang karena sudah rusak atau dirusak menjadi tidak jelas bentuknya. Hampir tidak ada peneliti yang berupaya sungguh-sungguh untuk memperoleh bukti konkrit dan rumah Majapahit di situs Trowulan. Sebab kita belum tahu benar apakah bentuk rumah penduduk kota irü santa dengan model- model rurnah dan terakota yang banyak ditemukan di situs ihi. Kita juga belum tahu apakah bentuk rumahnya sama dengan rumah yang diukir pada reief candi. Bagaimana bentuk dan ukuran denahnya, kemana arah hadapnya, apakah ia dibangun pada batiir atau pada muka tanah langsung, apakah atapnya dan genteng, sirap, ambu, atau ijuk, dan masih banyak pertanyaan yang perlu dijawab. Untunglah sejak awal tahun 1990-an dimulai penelitian arkeologi yang memusatkan perhatian pada upaya menemukan data bangunan rumah. Di antara basil kajian yang penting adalah sisa bangunan rumah yang ditemukan dalam ekskavasi di halaman Museum Trowulan (para peneliti menyebutnya Situs Segaran II).

ImageDi situs ini pada tahun 1995, ditemukan kaki bangunan dan tanah yang diperkuat sekelilingnya dengan susunan bata (berspesi tanah setebal satu cm), membentuk sebuah batur rumah. Denah batur berbentuk empat persegi panjang, ukurannya 5,20 x 12,15 meter, dan tingginya sekitar 60 cm. Di sisi utara terdapat sebuah struktur tangga. Dan keberadaan dan letak tangga, dapat disimpulkan bahwa rumah ini mengharap ke utara dengan deviasi sekitar 9° 55” ke timur, seperti juga orientasi dan hampir semua arah struktur bangunan yang ada di situs Trowulan.

Hal yang menarik ialah bahwa di kaki bangunan terdapat selokan terbuka pada sisi kiri dan kanan kaki bangunan selebar 8 cm dan sedalam 10 cm. Di depan kaki bangunan, khusus pada lokasi tangga, selokan itu mengikuti bentuk denah bangunan tangga. Selokan tersebut dibangun dari satuan satuan bata, baik dindingrya maupun dasarnya, sehingga struktur selokan lebih kuat, dan airnya bisa mengalir lebih cepat daripada jika struktur selokan hanya dari tanah. Selokan semacam ini belum pernah ditemukan di tempat lain.

Di sekitar kaki bangunan ditemukan lebih dari dua ratus pecahan genteng terakota pada lantai halaman, yang fungsinya sebagai penutup atap bangunan ini. Juga ditemukan lebih dari tujuh puluh pecahan bubungan dan kemuncak, yaitu hiasan dari terakota yang ditempatkan di puncak bangunan, dan ukel yaitu hiasan dari terakota yang ditempatkan di bawah jurai atap bangunan.

Di depan bangunan ini ditemukan halaman yang susunannya amat menanik dan unik. Tanah halaman ini ditutup dengan struktur yang berpola kotak-kotak dan masing-masing kotak itu dibatasi dengan bata-bata yang dipasang rebah di keempat sisinya, dan di dalam kotak berbingkai bata tersebut dipasang batu-bata bulat memenuhi seluruh bidang. Tutupan semacam ini berfungsi untuk menghindari halaman menjadi becek seandainya turun hujan. Belum pernah ditemukan penutup halaman yang semacam ini, kecuali yang agak serupa yang diketemukan di selatan situs Segaran II.

Dari temuan itu dapat diasumsikan bahwa tubuh bangunan didirikan di atas batur setinggi setinggi kira-kira 60 cm. Tubuh bangunan agaknya tidak dibangun dari bata, karena di sekitar bangunan itu tidak ditemukan bata dalam jumlah besar yang sesuai dengan volumenya. Mungkin tubuh bangunan dibuat dari kayu (papan) atau anyaman
bambu jenis gedek atau bilik. Ting-tiang kayu penyangga atap tentunya sudah hancur, agaknya tidak dilandasi oleh umpak-umpak batu yang justru banyak ditemukan di situs Trowulan, karena tak ada satu umpak pun yang ditemukan di sekitar bangunan. Tiang-tiang rumah mungkin diletakkan langsung pada lantai yang melapisi permukaan batur. Atap bangunan yang diperkirakan mempunyai sudut kemiringan antara 35-60 derajat ini ditutup dengan susunan genteng terakota berbentuk pipih empat persegi panjang (24 x 13 x 0,9 cm), jumlahnya sekitar 800-1000 keping genteng yang diperkirakan berdasarkan volume bangunan tersebut. Bagian atas atap dilengkapi dengan bubungan dan kemuncak, serta pada ujung-ujung jurainya dipasang hiasan ukel. Rekonstruksi bangunan rumah yang interprestasinya didasarkan atas bukti yang ditemukan di situs dapat dilengkapi melalui perbandingan dengan bentuk-bentuk rumah beserta unsur-unsurnya yang dapat kita lihat wujudnya dalam: (1) artefak sejaman seperti pada relief candi, model-model bangunan yang dibuat dan terakota, jenis-jenis penutup atap berbentuk genteng, sirap, bambu, ijuk: (2) rumah rumah sederhana milik penduduk sekarang di Trowulan; dan rumahrumah di Bali.

Lepas dan golongan status sosial penghuni rumah ini, ada hal lain yang menarik, yaitu penduduk Majapahit di Trowulan, atau setidak-tidaknya penghuni rumah ini, telah dapat menggabungkan antara segi fungsi dan estetika. Halaman rumah ditata sedemikian rupa untuk rnenghindari genangan air dengan cara diperkeras dengan krakal bulat dalam bingkai bata. Di sekeliling bangunan terdapat selokan terbuka dengan bagian dasarnya berlapis bata untuk mengalirkan air dari halaman. Dilengkapi juga dengan sebuah jambangan air dan terakota yang besar, dan kendi terakota berhias. Gambaran seperti ini rupanya semacam taman pada halaman rumah. Di sebelah timur ada beberapa struktur bata yang belum berhasil diidentifikasi. Mungkin rumah yang ukurannya relatif kecil ini hanya merupakan salah satu dan kompleks bangunan rumah yang berada dalam satu halaman seluas 200-an meter persegi, dikelilingi oleh pagar keliling seperti kita dapati sekarang di Bali. WHD No. 506 Pebruari 2009.

SUMUR MAJAPAHIT


Bentang lahan Trowulan yang termasuk daerah aluvial fasies gunung api, merupakan suatu daerah yang mempunyai sumber air tanah yang cukup. Apalagi di daerah selatan Trowulan merupakan daerah kaki gunung Arjuna, Welirang dan Anjasmoro. Keletakan dataran ini memungkinkan “melimpahnya” air tanah dan air permukaan di Trowulan, sekalipun daerah itu mengalami musim kemarau yang lebih panjang. Pada umumnya sumber air tanah dapat digali pada kedalaman 3 - 4 m dan kwalitas airnya baik serta mernenuhi syarat untuk diminum.

ImageSebagai sebuah kota yang padat dengan penduduk, tentu untuk memenuhi kehidupan penduduknya diperlukan air. Air bersih antara lain diperoleh dengan cara menggali tanah untuk membuat sumur. Agaknya penduduk Majapahit telah mengenal sanitasi yang memenuhi syarat kesehatan. Bagian tepian sumur diberi penguat yang dibuat dari struktur bata dan tembikar (jobong). Kadang-kadang di sekitar permukaan sumur diberi lantai dan saluran air yang terbuka dan ada juga yang tertutup.

Sebuah survei sistematis di Situs Trowulan yang meliput area seluas 9 x 11 km berhasil menemukan sumur-sumur kuna. Densitas sumur-sumur tersebut sebanding dengan densitas temuan lain yang merupakan indikator permukiman kuno. Menariknya, di beberapa tempat terdapat “pemusatan” sumur yang cukup tinggi, misalnya di sekitar Gapura Wringinlawang sebelah tenggara. Dan tempat ini sekurang kurangnya ditemukan 25 buah sumur kuna yang dibuat dan struktur bata dan jobong. Bentuk denahnya ada yang bujursangkar dan ada pula yang bulat dengan ukuran sisi atau garis tengahnya sekitar 1 - 1,50 m. Sumur jobong juga ditemukan, namun jumlahnya tidak banyak. Garis tengah jobong berukuran sekitar 1 m.

Di tempat lain konsentrasi sumur juga ditemukan di sekitar Batok Palung, Sentonorejo, Kedaton, Pandansili dan tempat-tempat lain di Trowulan. Dengan demikian, wajar kalau di Trowulan banyak ditemukan sumur karena Trowulan merupakan sebuah kota yang padat penduduk.

Melihat bahannya, sumur-sumur kuna di Trowulan dibuat dan dua macam bahan, yaitu bata dan tembikar. Bahan ini mempengaruhi teknik pembuatan dan teknik pemasangan. Sumur yang dibuat dan bahan bata denahnya berbentuk bujursangkar atau bulat. Bentuk satuan batanya ada yang empat persegi panjang dan ada pula yang berbentuk melingkar. Bentuk bata yang empat persegi panjang biasa dipakai untuk membuat sumur yang berdenah bujursangkar dengan teknik pemasangannya berselang-seling tanpa spesi. Bentuk bata yang melingkar dipakai untuk membuat sumur yang berdenah bulat. Teknik pemasangannya juga berselang-seling dan tanpa spesi. Pemasangan bata berlangsung setelah kedalaman tanah yang digali sampai keluar air tanah yang memenuhi syarat untuk diminum.

Jenis sumur yang lain adalah sumur jobong. Bahan untuk membuat jobong adalah tanah liat yang adonannya sama seperti tanah liat untuk membuat tempayan dan wadah yang ukurannya besar. Masing-masing bagian berbentuk silindris dengan ukuran garis tengah dan tinggi sekitar 1 meter, dan tebal dindingnya sekitar 10 - 20 cm. Salah satu ujung silinder (jobong) mempunyai ukuran garis tengah lebih lebar yang berfungsi sebagai pengunci. Setelah tanah digahi sampai kedalaman air tanah yang layak minum, kemudian masing-masing jobong diturunkan satu demi satu menumpuk sampai ke permukaan sumur. Bagian yang garis tengahnya lebih besar terletak di bawah, menutupi bagian yang garis tengahnya lebih kecil.

Air sumur selain berfungsi untuk keperluan sehari-hari pada sebuah runiah tangga, berfungsi juga untuk upacara keagamaan dan pertanian dalam skala yang kecil (misalnya untuk menyirami tanaman ketika kemarau). WHD No. 506 Pebruari 2009.


Oleh : I Wayan Arjawa, ST (sumber detik, Parisada)

Berita Terkait



2 komentar:

  1. RSI SAKINAH MOJOKERTO telp/sms : +6285648280307

    BalasHapus
  2. Woow.. cukup memberi pencerahan tentang keberadaan kerajaan majapahit.

    BalasHapus