Memaknai Hari Raya Pagerwesi

Kata "pagerwesi" artinya pagar dari besi. Ini me-lambangkan suatu perlindungan yang kuat. Segala sesuatu yang dipagari berarti sesuatu Baca Lagi ...

Bali

GBali adalah nama salah satu provinsi di Indonesia dan juga merupakan nama pulau terbesar yang menjadi bagian dari provinsi tersebut. Selain terdiri Baca Lagi ...

Arti dan Lambang Pemujaan Hindu

Ajaran Hindu yang disimbulkan dalam upacara keagamaan Hindu dianggap sebagai bahan atau artikel yang suci untuk dipergunakan dalam kegiatan Baca Lagi ...

What do You Think About Hari Raya Saraswati?

Hari Raya Saraswati bagi umat Hindu di Indonesia dirayakan setiap 210 hari sekali menurut kalender Jawa Bali, yakni pada setiap Saniscara Umanis Baca Lagi ...

Bhagawad Gita: Gundahnya Sang Arjuna

Kuru, berkumpullah putra-putraku beserta laskar-laskar mereka, dan juga putra-putra Sang Pandu (Ayahanda Pandawa) bersiap-siap untuk suatu yudha Baca Lagi ...

Beginilah Tampang Manusia 1000 Tahun Mendatang

akarta, Evolusi telah mengubah bentuk manusia masa lalu menjadi bentuk yang sekarang Anda lihat. Namun menurut para ahli, evolusi masih terus Baca Lagi ...

Arti dan Lambang Pemujaan Hindu

Ajaran Hindu yang disimbulkan dalam upacara keagamaan Hindu dianggap sebagai bahan atau artikel yang suci untuk dipergunakan dalam kegiatan pemujaannya. Perlambangan dalam Hindu adalah sangat mendalam dan mulia sehingga setiap tindakan dalam upacara keagamaan itu mencerminkan arti spiritual untuk memusatkan pikirannya pada pemujaan dan meditasi pada Tuhan. Jika dipahami dengan baik dan benar maka perlambangan merupakan alat bagi pemuja dalam menyadari tujuan spiritual. Keindahan dan kesucian ritual tersebut tidak dapat dihayati dengan pengetahuan yang sesuai dari arti tindakan itu. Perlambangan itu bertujuan untuk mengilustrasikan arti dan menjelaskan beberapa simbul yang umum dari beberapa dewa-dewi Hindu, antara lain:

Anjali, yaitu gerakan tubuh penghormatan dan salam, di mana dua telapak tangan yang disatukan dengan lembut dan dikuncupkan. Tangan diletakkan di dada dan gerakkan ini digunakan juga untuk menyapa sesama
yang setingkat dengan mata untuk menghormati orang yang lebih tua. Sedangkan di atas kepala adalah untuk memberikan penghormatan kepada Tuhan.

Bilva (apel liar atau pohon bael), daun bilva ini dianggap sangat suci untuk pemujaan terhadap Dewa Siwa.

Bindi atau Bindu (tilak), orang Hindu memakai tilak (titik merah pada wanita dan titik memanjang pada pria di dahi mereka). Titik ini dikenal dengan berbagai nama seperti ajna cakra, mata spiritual, dan mata ketiga, yang dikatakan sebagai pusat saraf dalam tubuh manusia. Pada jaman dahulu, orang Hindu
menggunakan bubuk timah (sindhur) atau cendana untuk meletakkan titik di dahi mereka.

Kamper (camphor), ini melambangkan bahwa pengetahuan spiritual yang dapat memurnikan pikiran dari seorang pemuja, sehingga meninggalkan ketidaksucian dalam pemikirannya. Keharuman dari kamper ini dapat menghapus dosa serta menyucikan udara pada tempat pemujaan.

Kelapa, pada bagian kulit luar yang lembut dan adalah halus melambangkan tubuh manusia. Dan bagian kulit kelapa yang keras melambangkan keegoisan manusia yang harus dipecahkan. Sedangkan air kelapa tersebut melambangkan jiwa manusia yang bersatu dengan Tuhan.

Sapi adalah simbol dari Ibu Mulia (Dewi Durga) yang memberikan makanan dan menjaga kehidupan. Perlambangan ini menyatakan bahwa susu sapi sama dengan susui ibu yang diberikan untuk anak-anaknya. Dalam Hindu Dharma, Ibu Mulia juga dilambangkan sebagai Dewi Bumi atau Prthi, dan kesucian dari sapi dihormati karena hewan ini adalah kendaraan dari dewa.

Dhupa, adalah keharuman yang melambangkan kekuatan indera yang menarik pikiran. Pembakaran dhupa adalah simbul terhadap penghancuran segala keinginan manusia dan juga menspiritualkan lingkungan yang melambangkan cinta pada Tuhan dan membebaskan pikiran dari keinginan duniawi, serta membantu untuk memusatkan pikiran di saat pemujaan.

Dhvaja, adalah sebuah bendera atau pita berwarna merah atau oranye yang dikibarkan di atas tempat pemujaan, yang menjadi simbul kemenangan melawan ketidakbenaran.

Ghanta (lonceng), suara lonceng pada saat berdoa atau memuja yang dapat menghilangkan suara yang mengganggu dan dapat membantu pikiran untuk berkonsentrasi dalam mencapai pemujaan.

Kalasa, adalah tempat air berupa ceret / toples yang di atasnya ditutup dengan daun mangga dan kelapa yang telah dikupas.

Kamandalu, adalah sebuah tempat air yang terbuat dari tanah atau kayu yang melambangkan kebebasan dari keterikatan duniawi dan keinginan untuk selalu mencari Tuhan.

Kuttuvilaku, adalah lampu yang digunakan pada tempat pemujaan yang melambangkan cahaya Tuhan untuk menghilangkan avidya, penyebab utama keterikatan manusia dengan duniawi.

Bunga Teratai, melambangkan pengetahuan spiritual dan kekuatan. Arti dari teratai itu mengandung makna bahwa seseorang ketika hidup di dunia tidak terpengaruh oleh ketertarikan duniawi.

Daun dan Buah Mangga, melambangkan kesucian dan pemenuhan kebutuhan yang bahagia pada keinginan manusia.

Namaskara atau Pranama, adalah untuk memberi salam pada orang lain dengan menyatukan kedua tangan menjadi satu sambil membungkuk. Dalam pandangan Hindu, ini melambangkan pertemuan atman dan brahman serta menunjukkan sifat yang merendahkan diri.

Paduka, adalah sandal suci yang dipakai orang-orang suci, rsi dan guru yang melambangkan segala bentuk penghormatan.

Rudraksa, yang berarti mata Siwa atau Rudra adalah biji coklat kemerahan dari pohon Rudraksa yang tumbuh di Himalaya, yang sangat manjur digunakan untuk merapalkan mantra-mantra.

Saffron, warna kuning yang menyimbulkan kemurnian, kesederhanaan, dan pengasingan diri atas keinginan duniawi.

Sankha, adalah kerang yang melambangkan asal dari jagat raya bersatu sumber dan suara yang dihasilkan dapat mensucikan tempat pemujaan atau perayaan.

Satkona, adalah bintang persegi enam yang terbentuk oleh dua segitiga yang saling mengait. Setiap sisi segitiga itu menyimbulkan sat (keberadaan mutlak), cit (kesadaran mutlak), dan ananda (kebahagiaan mutlak).

Swastika, yang berarti "ini baik", merupakan simbul kesucian, kemakmuran, dan peruntungan yang baik.

Tripundra, yang berarti "tiga tanda", adalah tanda sekte pemujaan terhadap Dewa Siwa, yang melambangkan sifat dari tubuh fisik dan kebutuhan untuk kesempurnaan spiritual.

Trisula, adalah tongkat yang memiliki 3 garpu milik Dewa Siwa yang digunakan untuk menghancurkan kejahatan dan perbuatan kejahatan serta melambangkan keinginan (iccha), tindakan (kriya), dan pengetahuan (jnana).

Tanaman Tulasi, adalah tanaman yang paling suci yang dianggap dapat menghancurkan kejahatan dan dapat digunakan sebagai pengobatan.

Urdhapundra, adalah tanda sekte pemujaan Dewa Wisnu, yang melambangkan jejak kaki Dewa Wisnu yang terletak di bunga lotus.

Vata, adalah pohon banyan yang melambangkan tradisi Hindu. Akar pohon banyan melambangkan Weda, Upanisad dan kitab lain. Batangnya melambangkan kesatuan dengan Tuhan dalam perbedaan filsafat Hindu.

Vahana, dalam bahasa Sansekerta artinya binatang, burung atau manusia, yang digunakan sebagai kendaraan para dewa-dewi dalam mitologi Hindu.

Vibhuti, adalah abu suci dari kotoran sapi yang dibakar dengan bahan suci lainnya yang digunakan untuk keperluan upacara dan melambangkan pengasingan diri serta kemurnian. Ketika dibakar, abunya secara simbolis melambangkan alam dan kejadian di dunia.

Dikutip dari berbagai sumber

Berita Terkait



Tidak ada komentar:

Posting Komentar